Gemati - Suara Rakjat
Bengkel Gemati

Stigmatisasi Motor Astrea Grand

Moh. Hamzah Sidik | 09 Apr 2026


Cover

Sehabis Lebaran, saat saya sedang asik menikmati momen bersama keluarga, mendadak gawai saya bergetar. Dering suaranya memecahkan perhatian saya. Sebuah notifikasi menunjukkan nama (sebut saja) Agus, seorang kawan lawas yang sudah jarang berkomunikasi mendadak menghubungi saya.

Dalam batin, saya bertanya tumben sekali Agus menghubungi saya, ada apa gerangan? Apakah saya ada hutang? Dalam ingatan, saya tidak pernah berhutang. Lantas saya putuskan untuk angkat telpon menerima panggilannya, sejenak hening sebelum ucapan salam saling kami sahutkan.

Saling bermaafan dan saling menanyakan kondisi serta kabar, di dalam percakapan ini ternyata Agus telah berhasil mengejar cita-citanya kini ia bekerja di sebuah agensi multimedia, di Surakarta, memang tidak besar tapi ya, lumayan katanya, pasarnya selain melayani pembuatan iklan produk, juga melayani acara anak-anak SMA membuat buku tahunan dan farewell party.

Tidak salah kalau dulu ia sering hunting spot foto trendi. Sekarang skillnya pun terpakai kadang jadi tukang foto di mini football, foto wisuda, dan sesekali kalau tidak ada job, dia menjadi fotografer prewed. Memang, sorotan lensanya sudah tidak dihiraukan kualitasnya dari angle manapun hasilnya nampak oke dan sip.

Tapi, setelah berbasa-basi cukup lama, Agus menyampaikan maksud dan tujuannya. Agus ini, sedang ada proyek produksi film pendek, sepertinya akan dilombakan di festival film pendek seperti sebelum-sebelumnya, atau pembuatan film pendek iklan layanan masyarakat entahlah.

Pada akhirnya, ia sedang membutuhkan properti yang menjadi ciri khas masyarakat pra-sejahtera. Ia berkeinginan meminjam si Rino. Rino adalah Motor Honda Astrea Grand tahun 1995 milik saya, yang saya rawat dengan penuh kasih seperti malika si kedelai hitam.

Dengan lugas Agus beralasan kalau Honda Astrea itu cocok sebagai pelengkap khidupan keluarga pra-sejahtera. Seolah-olah adanya Rino ditengah kehidupan keluarga sederhana itu sebagai harta yang amat istimewa. Sebenarnya saya menyambut baik, tapi si Rino ini sedang dipakai teman Bapak yang biasa mengantar Bapak bepergian.

Sehingga, saya tidak bisa mengiyakan tawaran tersebut. Setidaknya, saya minta Agus untuk berkomunikasi dengan teman Bapak yang tiap hari membawa dan merawat si Rino. Paling tidak, kalaupun mengiyakan Rino akan terabadikan, Rino bakal memiliki sumbangsih dalam khazanah perfilman pendek di Indonesia.

Keliru

Tapi kok ya peran Rino menjadi harta teristimewa dari keluarga pra-sejahtera. Sebenarnya, ini menjadi stigmatisasi yang amat keliru. Honda Astrea memang harganya terjangkau, tangguh, irit, dan bandel. Namun, bukan berarti Honda Astrea Grand ini barang yang cocok untuk diidentifikasi dengan nuansa kemiskinan.

Itu adalah stigma yang jahat. Astrea Grand adalah subculture dunia otomotif selain nyaman dengan nilai kesederhanaan yang kuat, motor ini juga mengidentifikasikan dirinya sebagai motor pekerja keras. Jangan mentang-mentang Astrea Grand ini sangat kompatibel untuk jualan cilok dan ngarit bukan berarti unsur kemewahannya luntur begitu saja.

Bahkan, kenapa saya katakan kalau Astrea Grand ini adalah subculture dari otomotif? Sebab, kiwari makin banyak komunitas-komunitas Astrea Grand yang berkembang di kalangan kawula muda.

Sebagai penunggang Astrea Grand sejak lama, saya tidak heran dengan motor ini yang memang dirancang tahan di segala medan. Maka, tidak mengherankan jika banyak kopdar, touring, dan jambore yang dilaksanakan para penggemar Astrea Grand.

Harganya

Bahkan, dewasa ini Astrea Grand sudah tidak masuk akal harganya. Tidak bohong. Bahwa, beberapa teman yang saya temui sesama penggila motor klasik berkata harga series motor Astrea kini mampu bersaing dengan Honda Win, Honda S90. Bahkan, ada yang harganya hampir setara dengan harga Vespa klasik.

Seperti teman saya, (Sebut saja) Singgih (24). Anak kalcer Jogja ini bukan anak orang sembarangan. Bisa dikatakan keluarganya berada atau pasca sejahtera. Ia menjadi salah satu penunggang Honda Astrea tahun 1985.

Awalnya di beli dengan mahar 4,5 juta. Setelah di restorasi dan mempertahankan part-part yang original, kini harganya melambung naik di pasaran motor klasik. Bahkan, menurutnya pernah ditawar seharga dua puluh juta-an.

Perawatan

Menarik. Dari sekedar hobi menunggang motor tua, dapat menjadi investasi jangka panjang. Menurutnya perawatannya juga tidak sulit. Yang penting, rutin mengganti oli mesin selama tiga bulan. Dan, sering dipakai dengan mobilitas yang tidak terlampau jauh, maka mesinnya akan tetap stabil.

Menurut Singgih, mencari sparepart motor Astrea tidaklah susah. Terkadang part original-nya mudah ditemukan di berbagai toko loak dengan harga sangat terjangkau.

Perkakas itu tadi, bisa di jumpai di pasar Klithikan Pakuncen, Pasar Senthir, Pasar Klitikan Notoharjo, dan di beberapa tempat tersembunyi. Seperti di daerah Sumber, Banjarsari, Solo di daerah pinggir bantaran sungai Bengawan Solo. Malahan, ada beberapa daerah yang memang dirahasiakan. Pasalnya, kalau semua orang tahu, bakal bisa mengganggu harga pasaran sparepart untuk restorasi.

Buang!

Jadi sekarang jelas, ya! Buang jauh-jauh pikiran bahwa Honda Astrea adalah motor yang identik dengan kemiskinan. Sekali lagi Astrea Grand adalah subculture.

Akhir-akhir ini, Astrea Grand memang sedang naik daun. Menjadi pilihan kolektor dan pecinta motor klasik. Ya karena mesinnya empat tak ini sangat ramah lingkungan dan tetangga, karena tidak ngebul asapnya di sana sini. Mesinya tangguh perawatannya mudah dan harga non kolektor cenderung masih terjangkau.

Selain itu, juga irit. Satu liter bensin bisa menempuh jarak 56 kilometer. Bayangkan, ada motor yang iritnya dunia akhirat. Ini menjadi salah satu alasan pemiliknya tidak miskin karena gemar menabung. Dengan itu, Honda Astrea Grand sebagai solusi zaman. Lebih-lebih, kelangkaan dan naiknya harga BBM selalu menghantui kita.

Bagaimana? Pilih Astrea atau pilih yang lain? Hehe.

 

PENULIS :
Foto
Moh. Hamzah Sidik
Suka baca. Jarang nulis. Terobsesi untuk merebut tahta Raja Jawa.