Pelaksanaan Kongres Bahasa Indonesia III berlangsung di Jakarta pada 28 Oktober–3 November 1978 yang sekaligus sebagai peringatan 50 tahun Sumpah Pemuda. Di dalam laporannya, peserta yang terlibat dalam acara itu sejumlah 419 orang.
Keterangan itu termuat dalam pengantar buku berjudul Kongres Bahasa Indonesia III (1983) yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Selain memuat teknis pelaksanaan dan hasil kongres, buku itu memuat 49 makalah dari sekian nama terkait gagasan bahasa Indonesia.
Ada nama-nama penting dalam kongres itu. Mulai dari Mohammad Hatta, Sutan Takdir Alisjahbana, S. K. Trimurti, Mochtar Lubis, Ajip Rosidi, Anton M. Moeliono, Umar Kayam, H. Johannes, Andi Hakim Nasoetion, hingga Jusuf Syarif Badudu.
Kita terpikir untuk menengok gagasan dari Jusuf Syarif Badudu atau populer disebut J. S. Badudu. Ini tak lepas dalam almanak kalender, yang pada 19 Maret 2026 lalu, ia genap berusia 100 tahun kelahirannya. Tokoh yang lahir di Gorontalo pada 19 Maret 1926 itu dalam hidupnya memberikan dedikasi yang besar terhadap bahasa Indonesia.
Makalah J. S. Badudu di dalam buku tersebut berjudul “Pemakaian Bahasa Indonesia dalam Buku Pelajaran”. Ia mengetengahkan bagaimana penggunaan bahasa Indonesia di dalam buku pelajaran yang digunakan oleh para murid di sekolah.
J. S. Badudu memberikan keterangan, “Sering kita baca dalam surat kabar atau kita dengar keluhan orang tua murid terhadap kesalahan bahasa yang terdapat dalam buku-buku pelajaran, baik buku pelajaran khusus bahasa Indonesia maupun buku mata pelajaran lain, seperti matematika, ilmu pengetahuan alam, dan ilmu pengetahuan sosial.”
J. S. Badudu mengajukan sejumlah judul buku pelajaran yang tersebar pada masa itu. Kita paham, apa yang ia lakukan adalah bentuk kepamrihannya terhadap bahasa Indonesia dalam benak anak-anak di sekolah.
Itu tak lepas bahwa hingga konteks kini, buku pelajaran menempati buku terpenting dalam proses murid-murid di jenjang pendidikan. Tentu saja, itu menyiratkan bahwa jika pintu mendasar itu telah diwarnai permasalahan tentang bahasa, maka bisa menimbulkan efek domino dalam proses yang akan dilalui mereka.
Ada hal menarik dari makalah hasil penelitian yang ditulis oleh J. S. Badudu. Yakni, adalah tentang pemosisian bahasa Indonesia dalam konteks antara buku pelajaran untuk kalangan perkotaan dengan pedalaman.
Ia menegaskan, “Pemahaman murid-murid tidak sama. Murid-murid yang diam di pinggiran kota dan di pedalaman, yang di rumah dan dalam lingkungan hidupnya sehari-hari menggunakan bahasa daerah, lebih lambat dan lebih sukar memahami bahasa Indonesia yang dipakai dalam buku-buku pelajaran. Sebaiknya, buku untuk mereka dibedakan daripada buku yang dipakai oleh murid di kota-kota besar.”
Gurunya Guru Bahasa
Apa yang dilakukan itu tentu mengacu pada kepedulian J. S. Badudu terhadap keberagaman yang ada, sekaligus ia mengantisipasi pada jebakan monokultur keseragaman. Jika ditilik lebih mendalam, logika yang dibangun oleh J. S. Badudu tidak bisa dilepaskan dari perjalanan karier yang dilaluinya.
Sebelum menjadi pengajar di kampus Universitas Padjadjaran, ia telah melalang buana dengan menjadi pengajar bahasa Indonesia di berbagai jenjang. Masing-masing adalah sekolah dasar (8 tahun), sekolah menengah pertama (4 tahun), dan sekolah menengah atas (10 tahun).
Pengabdiannya di jalan bahasa sebagai pendidik yang dilakukan oleh J. S. Badudu itu menjadikan Anton M. Moeliono (1929–2011), Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa 1984–1989 menyebutnya dengan “Gurunya Guru Bahasa”. Selain mengajar, yang perlu kita ketahui, J. S. Badudu menulis kolom bahasa untuk majalah.
Juga, ia terlibat dalam program siaran pembinaan bahasa Indonesia di Televisi Republik Indonesia, menyusun sekian kamus, hingga memproduksi gagasan dalam bentuk buku, baik teks maupun pelajaran. Kesemuanya itu berada dalam satu garis: pemuliaan terhadap bahasa Indonesia.
Sebaran tulisan dari J. S. Badudu menempatkan ia disegani. Ia dikagumi banyak orang dan dari sana tertarik untuk mau belajar mendalam terkait bahasa Indonesia. Begitu pula buku-bukunya yang kerap cetak ulang yang menandakan banyak yang meminati.
Kita menduga di sana tak terkecuali sejumlah banyak guru bahasa Indonesia kemudian turut mendapati dedikasi dan ketekunan dalam memosisikan bahasa Indonesia. Mereka kemudian mendapati semangat pencerahan saat mengajarkan bahasa pada murid-muridnya.
Hal itu mengingatkan esai garapan J. S. Badudu berjudul “Suatu Pemikiran tentang Pendekatan atau Metode Pengajaran Bahasa Indonesia di SD, SMTP, dan SMTA” (Kompas, 24 September 1984). Esai itu juga termaktub dalam buku berjudul Cakrawala Bahasa Indonesia (Gramedia, 1985).
Melalui tulisan tersebut, J. S. Badudu mengetengahkan keberadaan guru menjadi faktor penting dalam pengajaran bahasa Indonesia. Posisi yang diandaikan oleh J. S. Badudu itu kemudian memberikan sebuah pantikan bagi para murid dalam melakukan kebiasaan berbahasa Indonesia yang baik.
J. S. Badudu menegaskan, “Seorang guru yang baik haruslah kreatif dan berusaha agar murid-murid anak didiknya juga kreatif. Dia harus selalu mencari cara yang terbaik untuk menyajikan pelajarannya sehingga menarik murid, menimbulkan minat murid, dan membangkitkan kecintaan murid kepada mata pelajaran yang diasuhnya, bahasa Indonesia. Dia tidak puas dengan memberikan bahan pelajaran dari satu sumber saja, tetapi senantiasa mencari bahan-bahan baru yang up to date sehingga dapat memikat perhatian murid-muridnya.”
Penjelasan tersebut agaknya penting untuk menjadi refleksi pada masa kini akan jalan kebahasaan. Kita perlu paham, seiring perkembangan zaman, khususnya pengajaran bahasa Indonesia bagi murid-murid di sekolah sering mendapati tantangan tak terkira.
Dalam ayunan ritmis kecepatan teknologi digital, acapkali bahasa Indonesia tak menjadikan arus utama sebagai sebuah kemampuan yang harus diajarkan dengan baik dan benar sebagai upaya untuk terus menemui kasmaran berilmu. Bahasa yang bukan sebatas dijadikan sebagai identitas, namun menyangkut pula pada kesiapan diri untuk membaca zaman.
Pada peringatan 100 tahun J. S. Badudu, kita mendapati arti penting keteladanan dalam berbahasa Indonesia. Keteladanan itu dalam keterhubungan antara murid dan guru terhadap buku pelajaran pada proses pendidikan dan pengajaran.
J. S. Badudu mewarisi gagasan penting. Bahwa, penyusunan buku untuk mata pelajaran apapun menyaratkan fondasi kebahasaan dan penulisan yang ketat serta tak boleh serampangan.
Ini menjadi acuan yang didasarkan pada keberpihakan J. S. Badudu pada murid-murid di sekolah. Tak lain dan tak bukan agar mereka sejak awal memiliki ketertarikan pada bahasa dan mengantarkannya pada upaya sadar untuk terus menekuni ragam ilmu dan pengetahuan sebagai bekal masa depan untuk keberlanjutan republik.[]