Gemati - Suara Rakjat
Esai Kerakjatan

Seni Mengukur Zaman Tanpa Mengukur Diri

Moh. Hamzah Sidik | 01 Sep 2026


Cover

Orang-orang sekitar saya ini lucu sekali, bahkan lebih lucu dari kebijakan dan pola komunikasi pemerintah. Sebenarnya, saya malas membahas ini tapi agaknya perlu saya ceritakan disini.

Jadi kemarin saya berada disebuah tempat perkopian. Tempatnya tidak mewah dan tidak kalcer. Sederhana saja semua sama rata tidak ada abangda, kakanda, ataupun adinda. Semua setara tanpa tapi. Sebelum berkumpul Kita saling memberi info melalui gawai yang tersambung satu dengan yang lain.

Tak berselang lama datang lah satu-persatu kawan-kawan saya. Bangku-bangku sudah tidak sepi sebagaimana awal, makin banyak yang datang semakin banyak pula kepala dan mulut yang bakal bersahut mengenai berbagai topik pembicaraan.

Ngalor-Ngidul

Benar saja keheningan pecah saat salah satu kawan kami memulai obrolan. Sangat lengkap. Ngalor-ngidul. Dari obrolan republik kesatuan, sampai republik federalis. Dari demokrasi sentralistik, sampai desentralisasi otonomi. Dari otonomi khusus sampai referendum. Dari keadilan sampai tirani. Dari supremasi sipil menuju diktator militeristik. Dari swasembada pangan hingga salah guna tata kelola lahan. Dari sipil yang militeris, sampai militer yang sipilis. Semuanya ada.

Sangat keruh nun riuh. Maklum, masing-masing memang datang dari berbagai daerah dan membawa ceritanya masing-masing. Ada yang dari Aceh, ada yang dari Sumut, Jabar, Jateng, Jatim, Madura, Sulsel, Malut, dan Maluku. Ya begitu plural persekawanan saya disini, lengkap dari Indonesia Barat, Indonesia Tengah, dan Indonesia Timur.

Namun, disini saya malah fokus dengan salah satu teman saya yang dengan bangganya memamerkan sebuah buku. Ya, buku itu adalah karyanya begitu katanya. Belum sempat saya mau membacanya dia dengan sukarela mempresentasikan sepenggal isi yang menurutnya berkesinambungan dengan judulnya.

Berangkat dari daerah kemudian memiliki sebuah karya adalah pencapaian yang prestisius baginya. Memang bagi kalangan setengah akademisi buku adalah legacy keabadian, tapi di kalangan akademisi yang suka membaca dan teliti, buku bisa saja menjadi aib, berkedok sebagai insan intelektual tapi ternyata plagiasi, fabrikasi, atau melanggar HAKI.

Kiranya kami ini sudah berbaik hati memberikan waktu untuknya menerjemahkan sebuah pandangan yang ia tuliskan kepada kami secara lisan, meskipun tidak selengkap sebagaimana tulisannya, tapi kita sangat menikmatinya. Angan-angannya besar melihat zaman dan peradaban, sementara kita yang berada dalam satu organisasi kepemudaan dilihatnya tampak kepayahan dalam membaca zaman.

Bayangkan membaca saja sulit apalagi memahami zaman. Jika diibaratkan sebelum minum obat kita harus baca aturan pakainya, nah membaca saja kita tidak bisa apalagi mau minum obat ini, bagaimana dosis dan takarannya bisa pas, bukannya manjur justru ajur. Begitu kira-kira.

Tapi hebatnya, bukan separuh suara forum tapi semua (kecuali dia) tidak sepakat dengannya, presentasinya bagus bagaikan sales yang memasarkan produk pada konsumen. Tapi ini bukan bicara tentang sebuah produk atau barang, ini adalah sebuah produk ide yang dikemas sebagai pandangan hidup, yang menurutnya semua orang layak mengikutinya. Kelasnya sudah sebagai tuntunan hidup.

Sebenarnya tidak ada yang salah tapi, kami juga berhak berargumen mengenai gagasannya. Kritik pertama disampaikan teman saya. Dan agak unik, saya melihat bahwa penulis buku terlalu subur melihat dirinya dan tandus menengok ladang di sebelahnya seolah-olah lahan tandus ini harus ia beri bibit unggul agar kesuburannya tersebar, tapi dia lupa bahwa ladang sering kali di kosongkan dari segala jenis tanaman dan gulma karena ladang itu sudah dipanen jauh-jauh hari, jadi bukan tandus. Ibarat ladang yang siap di garu atau di luku.

Orang-orang ini agaknya gagap sendiri. Mereka takut ketinggalan, akhirnya gegabah. Seolah-olah zaman ini bergulir sangat cepat sehingga dibenaknya orang akan berlomba-lomba memahami zaman beserta tantangannya, dan dia tidak mau kalah.

Dengan mengeluarkan buku bukan berarti itu sebuah pencapaian yang prestisius, kita juga tidak bisa bilang: "Mending saya menerbitkan buku daripada gak sama sekali". Ini pemikiran yang salah, menerbitkan buku pun kalau isinya gak bagus-bagus amat (meskipun relatif) juga mubazir dengan kayu yang di buat jadi kertas (maaf agak nyinyir).

Mungkin kalau pun sama-sama tidak bermutu saya akan menerbitkan sebuah buku yang berjudul Power Ranger dan Tantangan Zaman atau Ultramen dan Tantangan Peradaban. Dengan pisau analisa dipadu moral value Power Ranger dan Ultraman saya akan kulik tantangan zaman dan tantangan peradaban, sehingga semua orang bisa menggunakannya sebagai pedoman hidup ala Power Ranger atau Ultramen dalam mengarungi lika-liku zaman ini.

Terdengar agak ndakik-ndakik tapi setidaknya kalau buku ini terbit saya adalah manusia next level yang memiliki buku, sebagai rujukan dan pedoman hidup khalayak ramai. Dan, berkat saya orang-orang mampu melihat tantangan zaman, seolah-olah tantangan zaman dan peradaban ini template.

Sedikit-sedikit

Jadi jangan sedikit-sedikit menyeruakan “tantangan zaman” atau “tantangan peradaban”. Pertanyaannya zaman dan peradaban mana yang hendak kalian tantang? Menyodorkan sudut pandang dalam baju dan tubuh organisasi itu berbahaya, seakan-akan kalian ini representasi tunggal, lagian kacamata yang dipakai adalah subjektivitas.

Sudahlah, zaman itu ada memang bagian dari nafas hidup yang harus dilalui. Bukan ditantang, apa-apa ditantang hanya berbekal paradigma tanpa melihat realitas sosial?

Ikuti aja bagaimana pola dan lekak lekuk zaman ini. Karena untuk terus hidup dan eksis itu mudah kita hanya diminta untuk bisa membaur, beradaptasi, dan mengikuti zaman. Bukan menantangnya.

Sesungguhnya, menjawab tantangan zaman adalah sebuah kemampuan kita untuk terus beradaptasi. Menantang zaman dan peradaban adalah pemikiran yang muncul dari seseorang yang tidak mau mengukur diri. Seolah-olah dirinya, pikirannya, dan tindakannya adalah antitesis dari persoalan zaman. Mbel gedhess

PENULIS :
Foto
Moh. Hamzah Sidik
Suka baca. Jarang nulis. Terobsesi untuk merebut tahta Raja Jawa.