Kesehatan mental (mental health) sebenarnya bukanlah hal baru. Manusia selalu menghadapi persoalan yang berkaitan dengan kondisi jiwa dari dulu hingga sekarang. Saat ini, gangguan kecemasan (anxiety) dan depresi menjadi dua jenis racun yang menjangkiti manusia, baik secara global maupun di Indonesia.
Data di Indonesia menunjukkan urgensi tentang kesehatan mental saat ini. Berdasarkan laporan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes), prevalensi depresi di Indonesia tercatat sebesar 1,4%. Kelompok usia 15-24 tahun atau Generasi Z memiliki angka prevalensi depresi tertinggi, yakni sebesar 2% (Muhamad, 2024).
Gangguan mental tidak muncul begitu saja. Ada banyak faktor yang memengaruhinya, mulai dari tekanan ekonomi, lingkungan sosial, tuntutan hidup, hingga pengalaman trauma. Dalam situasi seperti ini, manusia cenderung mencari tempat untuk bersandar, dan agama sering kali menjadi salah satu rujukan utamanya.
Bukan Pelarian
Secara psikologis, manusia memahami agama sebagai tempat untuk kembali ketika menghadapi keterbatasan dirinya. Agama menyediakan ruang untuk mengeluh, berharap, dan mencari makna. Namun, melihat agama hanya sebagai "pelarian" tidak sepenuhnya tepat. Agama tidak hanya menjadi tempat bersandar, tetapi juga menjadi sumber kekuatan yang membantu seseorang menghadapi realitas hidup dengan lebih tenang dan terarah.
Kesehatan mental sendiri berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk merasakan ketenangan, keamanan, serta mampu menyesuaikan diri dengan berbagai tantangan hidup. Sebaliknya, seseorang yang mengalami gangguan mental dapat merasakan kecemasan berlebihan, rasa tidak aman, kehilangan kepercayaan diri, hingga kesulitan memahami dirinya sendiri.
Dalam kondisi tertentu, gangguan ini juga dapat muncul dalam bentuk perilaku agresif, mudah marah, atau gejala psikosomatis, yaitu gangguan fisik yang dipicu oleh tekanan psikologis. Meski begitu, mengaitkan semua masalah kesehatan mental dengan kurangnya ibadah atau lemahnya iman tidaklah tepat.
Cara pandang tadi, terlalu menyederhanakan persoalan yang aslinya kompleks. Banyak aspek yang saling berkaitan memengaruhi kondisi mental seseorang, sehingga membutuhkan pemahaman yang lebih menyeluruh.
Ibnu Sina
Ibnu Sina sebenarnya sudah menunjukkan pemahaman ini sejak berabad-abad lalu. Ia adalah salah satu tokoh besar dalam dunia kedokteran yang menyadari bahwa penyakit tidak hanya berasal dari tubuh, tetapi juga dari kondisi jiwa.
Salah satu teorinya yang paling terkenal menegaskan bahwa sakit tidak melulu disebabkan oleh lemahnya fisik, tetapi juga berakar dari kondisi kejiwaan yang melemah. Hal ini ia buktikan melalui penanganan seorang pangeran yang mengalami gangguan mental berat, bermula dari melankolia dan halusinasi yang kemudian berkembang menjadi delusi.
Delusi adalah keyakinan terhadap sesuatu yang keliru, tidak logis, serta berbeda dengan kenyataan. Penderita delusi menolak menerima fakta bahwa keyakinannya sebenarnya keliru (Marianti, 2025). Akibatnya, sang pangeran merasa dan berpikir bahwa dirinya seekor sapi, hingga ia tidak lagi mau makan dan minum sebagaimana layaknya manusia.
Ibnu Sina tidak menangani kasus ini secara konvensional. Ia datang menyamar sebagai jagal sapi, mengasah pisau di hadapan sang pangeran, lalu berpura-pura hendak menyembelihnya. Namun, ia berhenti dan berkata bahwa "sapi" itu terlalu kurus untuk disembelih, sehingga perlu makan terlebih dahulu.
Sang pangeran pun menurut dan memakan makanan yang di dalamnya telah di sisipkan obat dengan dosis tepat. Perlahan, sang pangeran pulih secara rohani maupun jasmani. Ibnu Sina menyimpulkan bahwa akar gangguan tersebut bukan berasal dari fisik, melainkan dari luka jiwa yang dalam akibat cinta yang tak tersambung (Qolbiyati, 2020).
Kisah ini menegaskan bahwa gangguan mental berakar dari persoalan yang kompleks. Sehingga, penanganannya pun membutuhkan pendekatan yang sama kompleksnya.
Dalam psikologi Islam, terdapat tiga konsep utama yang berperan penting dalam menjaga kesehatan mental, yaitu sabar, tawakal, dan tazkiyah. Sabar merupakan kemampuan mengelola emosi dengan memberi jeda antara masalah dan respons yang diambil.
Jeda Hidup
Di ruang jeda itulah seseorang dapat berpikir jernih, bukan bereaksi secara impulsif. Tawakkal membantu seseorang menyadari batas kendali dirinya. Seseorang yang menyerahkan hasil dan masa depan kepada Allah akan merasakan beban pikirannya menjadi lebih ringan, karena ia tidak lagi merasa harus mengendalikan hal-hal yang di luar jangkauannya. Sementara itu, tazkiyah mengajak seseorang untuk mengenali dan membersihkan luka batin melalui refleksi diri dan perbaikan spiritual yang berkelanjutan (Maghribi & Mashar, n.d.).
Psikologi modern memandang ketiga konsep ini sejajar dengan teknik emotional regulation dan cognitive restructuring. Perbedaannya terletak pada keterlibatan hati dan keyakinan yang mendalam dalam proses beragama, sehingga bagi sebagian orang efeknya bisa terasa lebih menyeluruh dan bermakna.
Namun demikian, perlu diakui bahwa tidak semua pengalaman beragama itu menenangkan. Beberapa orang justru mengalami tekanan atau bahkan trauma akibat cara penyampaian agama yang keras, menghakimi, dan tidak memberi ruang untuk memahami diri (Kusmayani, 2024).
Konsep tazkiyah mengajak kita menyadari bahwa luka batin seseorang bisa saja bersumber dari pengalaman religius yang keliru, baik karena pengajaran yang menyimpang maupun penafsiran yang terlalu kaku. Dalam konteks ini, agama justru berubah dari sumber ketenangan menjadi sumber ketakutan dan beban psikologis.
Pada akhirnya, seperti yang telah dibuktikan Ibnu Sina berabad-abad lalu, manusia adalah makhluk yang utuh. Agama dapat menjadi sumber ketenangan dan kekuatan luar biasa apabila seseorang memahaminya secara sehat, rasional, dan penuh empati.
Seseorang perlu membangun bukan hanya keimanan, tetapi juga cara beragama yang bijak, sehingga agama benar-benar menjadi pedoman hidup yang menenangkan, bukan membebani.