Gemati - Suara Rakjat
Esai Kerakjatan

Mengunjungi Bung Hatta

Fahrul Anam | 17 Aug 2026


Cover

Bung Hatta. Lahir di antara kesejukan udara gunung Marapi dan Singgalang pada 12 Agustus 1902. Dari situlah tumbuh seorang perumus negara nun bersahaja. Pijar pemikirannya menerangi dan menuntun bangsa Indonesia ke gerbang kemerdekaannya. Namun, setelah bangsa ini menikmati kemerdekaan, bangsa Indonesia malah melupakan Bung Hatta. Seperti buku di sudut perpustakaan yang usang dan berdebu, tidak pernah membacanya.

Sejujurnya, kalau kita mengunjungi dan menjelajahi sabana kehidupan Bung Hatta, kisah kehidupannya sungguh menarik hati supaya generasi sekarang bisa menirunya. Bahwa, bagi Bung Hatta, buku adalah belahan jiwanya; kekasih hidupnya. Sejak kecil, ia tumbuh dan berkembang bersama buku-buku.

Ada kisah menarik manakala Bung Hatta baru tiba di negeri Kincir Angin untuk berkuliah. Sebagaimana dalam Buku Seri Tempo Bapak Bangsa edisi Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman (KPG, 2018), Bung Hatta begitu kesulitan buat membeli buku. Dikisahkan, sebagai mahasiswa baru Rotterdam Handelschogeschool, Bung Hatta mewajibkan dirinya membeli buku. Apalah daya, ia belum menerima dana beasiswanya. Uang saku yang ia bawa dari Indonesia tidaklah seberapa.

Namun, Bung Hatta nekat. Tanpa uang saku, ia mendekati rak buku besar di dalam toko buku di Rotterdam, De Westerboekhandel. Bung Hatta mengambil buku Hartley Withers, Schar, dan beberapa buku karangan T.M.C. Asser. Ia tak tahu mau dibayar dengan apa semua buku itu. Beruntung, pemilik toko buku itu tahu bagaimana ia harus bersikap kepada mahasiswa miskin dari belahan Dunia Ketiga.

Dalam Mohammad Hatta Memoir, Bung Hatta menulis, “Dengan De Westerboekhandel aku adakan perjanjian bahwa buku-buku itu kuangsur pembayaran tiap bulan f10. Aku diizinkan memesan buku it uterus sampai jumlah semuanya tak lebih f 150”.

Kita berpikir bahwa buku telah menjadi organ tubuh Bung Hatta. Bahkan, ada anekdot menarik: “Istri utama Bung Hatta sesungguhnya adalah buku, Istri keduanya juga buku, dan istri ketiga adalah Rahmi Hatta”. Dan, sebagaimana kita tahu, Rahmi dipersunting Bung Hatta dengan dua jilid buku Alam Pikiran Yunani yang ia tulis selama di asingkan di Boven Digul.

Yang mana, ketika Bung Hatta akan dibawa ke Tanah Merah oleh pemerintah kolonial, ia membawa 16 peti yang berisikan buku. Dengan buku-buku itu, ia membaca buku ilmu ekonomi dan filsafat saban sore dan menulis kolom untuk surat kabar Pemandangan.

Berangkat dari romantisme Bung Hatta bersama buku, ia melahirkan ide-gagasannya untuk negeri ini. Lebih-lebih, Bung Hatta pernah berkuliah di Rotterdam Handelschogeschool, sebuah sekolah tinggi ekonomi bergengsi di Belanda waktu itu. Karenanya, ia memiliki semacam privilege untuk menjelajahi buku-buku ekonomi yang terkemuka—termasuk buku-buku ilmu pengetahuan lain. Sehingga, Bung Hatta melahirkan konsep koperasi sebagai solusi membangkitkan ekonomi di Indonesia.

Hal ini membawa kita kepada buku karangan Bung Hatta bertajuk Meninjau Masalah Kooperasi (P.T. Pembangunan Djakarta, 1954). Dalam buku itu, Bung Hatta menjelaskan bahwa: “Ko – operasi berasal dari kata-kata ,,ko”, jang artinja ,,bersama” dan ,,operasi”, jaitu ,,bekerdja”. Djadi kooperasi artinja sama-sama bekerdja.”

Lalu, Bung Hatta membagi koperasi menjadi dua jenis. Pertama adalah koperasi sosial. Koperasi ini berdasarkan watak orang Indonesia, yakni tolong-menolong dan gotong-royong. Dalam koperasi sosial, tidak ada perhitungan ekonomi yang teliti untuk mencapai hasil (keuntungan) besar dengan ongkos yang sedikit-dikitnya.

Sebab, mencari keuntungan sebesar-besarnya tidak ada dalam masyarakat Indonesia asli. Rasa solidaritet amat kuat.

Kedua, koperasi ekonomi. Tujuan koperasi ini ialah memperbaiki nasib orang-orang yang lemah ekonominya dengan jalan kerja sama yang menjadi inti dalam koperasi ekonomi ini. Secara insaf, koperasi ini dimaksudkan untuk memperbaiki keperluan hidup bersama.

Ia berusaha dengan perhitungan supaya mencapai hasil (tujuan) yang sebaik-baiknya dengan tenaga yang ada. Koperasi ekonomi menghendaki adanya individualitet. Maksudnya, koperasi ini mengedepankan adanya kesadaran dan keinsafan pada harga diri anggota-anggotanya. Karena dengan individualitet itu, sebuah koperasi dapat mencapai tujuannya.

Dengan demikian, menurut Bung Hatta, hormonisasi antara watak solidaritet dengan individualitet tadi menjadi tiang penyangga berdirinya sebuah koperasi. Dari kedua jenis koperasi tadi, berkembanglah rupa-rupa koperasi lain, yaitu: koperasi konsumsi, koperasi kredit, dan koperasi produksi. 

Di catatan lain, yakni dalam Beberapa Fasal Ekonomi (Djalan Keekonomi dan Pembangunan) terbitan Balai Pustaka tahun 1960, Bung Hatta menjelaskan betapa revolusionernya tujuan koperasi. Tujuan itu terbaca: “Dan bagi rakjat jang lemah ekonominja, tiada djalan lain jang terpakai bagi memadjukan usahanja selain dari pada kooperasi. Kooperasi adalah sendjata persekutuan bagi silemah untuk mempertahankan hidupnja.”

Itu tadi, cita-cita dan tujuan koperasi dari Bapak Koperasi. Lalu, bagaimana koperasi ala Bapak Prabowo? Kita membayangkan, jika Bung Hatta mengetahui adanya KDMP (Koperasi Desa Merah Putih) mungkin ia bakal menangis. Pasalnya, KDMP itu telah mencederai visi-misi koperasi yang diinisiasi oleh Bung Hatta yang mana, dari koperasi itu merupakan simbol kemandirian masyarakat, revolusi ekonomi arus bawah, dan kolektivitas masyarakat dalam menggapai kemakmuran.

Namun di KDMP, tidak ada aroma-aroma koperasi sama sekali: pelibatan tentara dalam pendirian KDMP di desa-desa, pendistribusian kendaraan operasional melalui KODIM atau KORAMIL, hingga proses seleksi dan pelatihan calon manajer KDMP. Ini menjadi pertanyaan besar untuk Presiden Prabowo! Mengapa bisa seperti ini?

Belum lagi modal KDMP berasal dari anggaran negara dan konon, juga ada yang berasal dari anggaran desa. Menurut Farid Gaban (2026), KDMP itu koperasi palsu. Selain bersifat top-down, KDMP juga jahat, yakni memaksa masyarakat untuk berhutang dengan ketentuan uangnya ditentukan orang lain dan memaksa warga desa menanggung kerugian resiko bisnis lewat pemotongan dana desa.

Seperti inilah kondisi Indonesia setelah 81 tahun proklamasi kemerdekaan. Banyak tujuan negara yang menyimpang. Menyimpang dari cita-cita para pendiri (founding) negara Indonesia, termasuk Bung Hatta. Demokrasi yang ia cita-citakannya kini hanya sebagai omong kosong yang selalu dikumandangkan pemerintah di hadapan rakyat yang kesulitan mencari kerja.

Risalahnya berjudul Demokrasi Kita (Pandji Masjarakat, 1962) tidak pernah dibaca oleh para penguasa negara. Tulisan itu terbaca: “Di mana-mana orang merasa tidak puas. Pembangunan tak berjalan sebagaimana mestinya. Kemakmuran rakyat masih jauh dari cita-cita, sedangkan nilai uang makin merosot. … Tentara merasa tak puas dengan jalannya pemerintahan di tengah partai-partai”.

Begitulah Bung Hatta. Ia memang bukan ahli nujum, namun ramalannya tentang masa depan Indonesia adalah keluasan dan kedalaman pemikiran untuk persembahan yang terbaik buat negerinya. Bung Hatta meninggalkan kita. Meninggalkan 30 ribu judul buku di perpustakaannya. Karenanya, untuk menghargai dedikasinya marilah kita mengunjungi Bung Hatta.

 

#BungHatta #Koperasi #KoperasiDesaMerahPutih

PENULIS :
Foto
Fahrul Anam
Pembeli buku-buku bekas. Penikmat kopi Arabika V60.