Gemati - Suara Rakjat
Esai Kerakjatan

Sebelum Semua Tumbang, Sempatkan Waktu Mendengarkan Psikolog

Adib Baroya | 01 Apr 2026


Cover

Demi mengisi libur panjang di hari raya yang telah usai, saya memilih mengalokasikan banyak waktu untuk menyimak segmen Kesehatan Mentalmu Lho. Sebuah siniar di Youtube yang dipandu oleh Adjie Santosoputro berkerja sama dengan Rumah Cahaya—sebuah lembaga pemberdayaan mental milik Habib Ja'far.

Jujur saja, ada alasan mengapa saya mengonsumsi konten tersebut. Belakangan ini, saya baru dengan sadar menganggap bahwa kesehatan mental adalah hal yang tak bisa dipandang sebelah mata, sambil lalu, atau sembarang ngalir.

Kesehatan mental bukan sekedar self-reward dengan membeli matcha latte atau marathon menonton film serial di Netflix atau menguras keranjang Shopee di malam hari demi mengusir anxiety. Bukan. Kesehatan mental lebih daripada itu.

Perkara ini berangkat dari spektrum yang luas sekaligus mengonstruksi-menyinggung banyak aspek dalam belantara hidup. Wajar apabila kondisi psikis seorang manusia sangat perlu diperhatikan betul-betul.

Sampai-sampai istilah kesehatan mental (mental health) menjadi tren dan “dagangan” laris-manis di media massa. Industri musik dan perbukuan turut menjadi saksi atas perkembangan ini. Apalagi gelombang informasi yang berseliweran di media sosial. Jelas, tak ada habis! Semoga kesadaran untuk terus belajar isu-isu psikologi ini tidak terlambat! 

Senada dengan titel podcast, Kesehatan Mentalmu Lho, segmen ini mengetengahkan narasi kesehatan mental kepada publik secara luas. Para pemirsa diajak untuk lebih melek dalam masalah mental. Sebuah term yang kerap beroleh stigma sangat lekat dengan Generasi Z dan, menurut keyakinan saya, masih belum dipahami dengan baik lagi bijak.

Nah, segmen hasil kolaborasi ini meramaikan ikhtiar dalam mengarus utamakan kesadaran tersebut. Saya menikmati menyimak satu demi satu konten, dalam satu urutan playlist. Secara acak saya pilih tema yang kebetulan waktu saya tonton saya anggap paling menarik atau sesuai. Yang lain tetap saya tonton, tapi nanti dulu.

Sedari judul, segmen ini tampak sederhana, jujur, alias tak cerewet. Tak ada kemauan untuk memasukkan sederet simbol atau ikon gigantis agar memikat calon pendengar. Tak ada niat untuk bikin heboh atau provokasi macam-macam. Kalem.

Soal bahasan, Kesehatan Mentalmu Lho menyajikan pusparagam tema; dari trauma masa kecil, relasi keluarga, pola pengasuhan, sampai hubungan toksik. Cakupan pembahasan ini sebenarnya cukup dekat dengan apa yang orang-orang hadapi, entah di masa lalu atau di masa depan.

Setiap orang pun niscaya berada dalam posisi sebagai anak, teman, kekasih, suami/istri, atau ayah/ibu. Oleh karena itu, variasi tema ini sangat mungkin mendorong kita sebagai audiens menggali memori kanak, menempatkan-mengaktualisasikan diri dengan penuh-seluruh, memahami orang lain yang sama-sama punya hak, dan tentu saja, menerima apa-apa yang telah terjadi di masa lampau.

Satu sesi di antara unggahan yang saya ingat dari beberapa edisi adalah soalan parenting. Tema ini lumayan menarik dan sangat mendesak, fundamental bagi siapa saja sesungguhnya, wa bil khusus manusia-manusia di usia seperti saya—yang umumnya sudah menikah atau lagi mengusahakan naik ke Gunung Merbabu—eh, pelaminan. Hehe.

Belajar Mengasuh

Parenting, kita tahu, bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Karena tidak taken for granted, pengasuhan jelas harus dipelajari – dari waktu ke waktu. Pengasuhan anak ini sejatinya dimulai sebelum anak lahir ke dunia, tepatnya saat anak masih dalam kandungan sang emak.

Dari situlah calon orang tua memposisikan diri dengan layak demi bakal anak. Tentu saja, mengasuh seorang anak manusia tidak bisa dikatakan mudah.

Tapi tak akan pernah salah untuk selalu memposisikan diri dengan pas, seturut peran & selaras zaman. Setiap hari adalah hari untuk belajar, sebagai anak maupun orang tua.

Yang jadi masalah adalah ketika orang tua/dewasa berhenti untuk belajar. Mereka niscaya menganggap diri selalu benar. Paham ini sering berlindung di balik kedok bahwa orang tua selalu memberikan yang terbaik bagi anak, tetapi luput bahwa apa-apa yang diberikan belum tentu keinginan/kemauan sang anak.

Masalah tadi, Ibarat kata, meminjam analogi yang saya ambil dari salah satu penjelasan Yustika, M.Psi., Psikolog, orang tua menaruh sepatu pada diri anak. Tetapi, (ukuran) sepatu tersebut belum tentu cocok bagi sang anak.

Kecenderungan ini lebih jauh akan membuat anak merasa kecewa, lamat-lamat tak percaya pada orang tua, & menganggap bahwa suara mereka tak didengar oleh orang tua mereka sendiri. Kehadiran bahkan pendapat mereka seperti tak berharga.

Sehingga, wajar apabila anak-anak akan terluka sampai-sampai mencari validasi/afirmasi bukan kepada orang tua. Tetapi, kepada hal-hal yang mungkin tak pernah mereka bayangkan.

Hal ini diperparah oleh orang tua—baik ayah dan ibu—yang menerapkan VOC parenting. Sebuah model pengasuhan yang berbanding terbalik dengan gentle parenting.

Pola pengasuhan khas kolonial tersebut terbilang ketat dengan banyak tuntutan & batasan. Bahkan, tak jarang melibatkan hukuman berupa kekerasan, baik fisik maupun verbal.

Aturan bagi sang anak sering tak bisa dikompromikan, mutlak! Belum lagi pola komunikasi. Jangan harap ada penghargaan bagi rasa penasaran/opini dari otak anak. Sering mereka dipandang tak tahu apa-apa dan belum waktunya mengerti dunia, sehingga komunikasi (terus) berjalan satu arah.

Pola asuh “kolot” ini tentu kurang cocok di zaman sekarang, saat kecanggihan teknologi menerjang laiknya air pasang menghempas batu-batu karang. Dampak negatif dari pendidikan usang ini pasti menyertai.

Dampak negatif tadi berkisar kepada kesulitan anak untuk mengungkapkan emosi karena gagasan mereka tak pernah dihargai, rasa percaya diri yang rendah karena merasa malu. Juga, anak jarang mendapat banyak perhatian/tatapan mata, sampai merenggangnya ikatan keluarga.

Jika ditilik mundur, penerapan pola pengasuhan satu arah ini punya akar yang panjang. Orang tua sangat mungkin membawa luka masa lalu dan menganggap bahwa mengasuh anak yang paling benar adalah seperti apa yang dia terima semasa kecil.

Dengan mengaplikasikan cetak biru plek-ketiplek tadi, anak sebagai layer ketiga berada dalam posisi paling berat. Dan, memanggul warisan turun-temurun.

Belajar Membasuh

Yang perlu kita lakukan barangkali adalah sama-sama sadar, sembari mengendalikan dengan bijaksana apa yang bisa kita kontrol (bukan kontrol bola lho, ya), lalu memulai kembali komunikasi afektif dengan sebaik-baiknya – entah sebagai anak, pribadi dewasa, atau orang tua – dan merajut ulang ikatan-ikatan yang sempat putus.

Dalam perjalanan hidup seorang manusia, tak ada luka yang benar-benar sembuh, agaknya, tapi setidaknya kita punya kesempatan untuk mencoba – meminjam lagu Hindia feat. Rara Sekar – membasuh.

Mungkin di sini saya mirip pertapa di bawah pohon rindang atau sungai purba yang sudah lama semedi dan siap mengubah dunia melalui petuah-petuah ajaib. Mungkin.

Saya tidak mau kelewat sombong atau, secara psikis, merasa paling baik-baik saja. Saya percaya bahwa problem mental bisa jadi akar dari spiral masalah yang muncul di kemudian hari. Gangguan kepribadian narsistik, kenakalan remaja, hambatan kognitif, psikosomatis, isolasi sosial, menyakiti diri sendiri secara fisik sampai niat bunuh diri.

Kini, saat negara sedang menggali liang kuburnya sendiri, dan kesehatan mental tak elok untuk disepelekan/dipendam dalam-dalam, ada baiknya kita mengalokasikan waktu buat mendengarkan advis profesional. Apa salahnya?



PENULIS :
Foto
Adib Baroya
Penggemar lagu-lagu britpop dan midwest emo.