Gemati - Suara Rakjat
Esai Kerakjatan

Kartini dan Sains

Joko Priyono | 21 Apr 2026


Cover

Kartini dibesarkan oleh banyak kalangan tentu tak lepas dari surat-surat yang pernah ia tulis semasa hidupnya. Surat tersebut memicu ketertarikan banyak pihak untuk melakukan riset demi mengerti gagasan di zamannya dan kemudian relevansinya pada masa kini.

Meski begitu, harus diakui, bahwa dalam konteks mutakhir, kita juga acap terjebak pada narasi tunggal, pada satu aspek yang dirasa dominan. Peringatan hari Kartini terkadang sebatas seremonial belaka.

Sedangkan, di sisi lain, banyak aspek yang jarang atau bahkan tak pernah disinggung dari keberadaannya. Jika menelaah surat yang pernah ditulis oleh Kartini memang kita akan menemukan banyak wacana dalam hidup. Baik itu emansipasi, pendidikan, kebudayaan, hingga gagasan kemajuan.

Mafhum, sejarawan J J Rizal membuat analogi “Kartini sebagai Ide” (Tempo, 2013). Ia menjelaskan: “Kartini tampaknya dalam tempo relatif cepat berhasil menciptakan idealisme yang kepada generasi setelahnya bisa menemukan akar keyakinan.”

Namun, tak dapat ditampik pula bahwa pemunculan Kartini sebagai sebuah “tonggak” atau bahkan berujung “pemitosan” beririsan kuat pada politik etis kolonial. Bukti kesahihan itu berhubungan dengan politik bahasa.

Betapa pun terdapat dua versi terjemahan surat Kartini yang populer di Indonesia. Masing-masing adalah terjemahan Armijn Pane, Habis Gelap Terbitlah Terang (Balai Pustaka, 1938) dan terjemahan Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya (Djambatan, 1979).

Dalam pratik penerjemahan tersebut memunculkan gejolak politik bahasa, sebagaimana disorot oleh beberapa kalangan. Di luar dua terjemahan itu, telah terbit pada 1922 dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang hasil terjemahan Empat Saudara, namun tidak laku.

Penerjemahan itu, membuat D. A. Rinkes, kepala Instituut voor Volkslectuur yang kemudian menjadi Balai Pustaka, menugaskan Armijn Pane untuk melakukan penerjemahan kedua kalinya. Hal ini memuat konteks relasi antara bahasa dan kolonialisme.

Telaah itu pernah dilakukan oleh Joss Wibisono dalam bukunya berjudul Maksud Politik Jahat: Benedict Anderson tentang Bahasa dan Kuasa (Tanda Baca, 2020). Menurut Joss, terjemahan yang dilakukan dua terbitan awal dengan menerjemahkan dari karya aslinya, Door duisternis tot licht menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang itu bermasalah.

Joss menegaskan, “Terjemahan ini tidak benar-benar mengandung makna yang sama dengan versi aslinya. Judul bahasa Belanda itu bermakna perjuangan dalam gelap untuk mencapai terang, jadi terang baru dicapai setelah terlebih dahulu berjuang atau bahkan menderita di dalam gelap.”

Ide Sains

Terpetik imajinasi bahwa sejak makna dalam judul sebenarnya menyiratkan semangat pencerahan, yang bisa jadi sebagaimana terjadi di Eropa. Dalam konteks itu, tentu erat pula pada sains. Bersamaan dengan itu, kita kemudian bertanya tentang gagasan sains dari surat-surat Kartini.

Ini sebenarnya terhubung pada semangat “pemberontakan” Kartini terhadap pembatasan pendidikan bagi kaum perempuan pada zamannya. Dalam banyak suratnya, ia mengutarakan cita-cita perempuan Jawa dapat berkesempatan bersekolah tinggi. Hal itu kelak dimanifestasikan dengan pendirian Sekolah Kartini.

Meski begitu, perlu diketahui bahwa pengekangan maupun pembatasan yang dialami oleh Kartini untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi dari keluarganya yang ningrat, utamanya sejak dipingit. Secara pendidikan formal ia hanya sampai pada jenjang Europeesche Lagere School (ELS) atau setara dengan sekolah dasar.

Nasib itu berbeda dengan kakaknya, R.M. Panji Sosrokartono yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi di Belanda. Artinya, prakondisi yang dialami Kartini, sebagai perempuan tak bisa dilepaskan dari rumah dan budaya feodal yang berlangsung.

Akan tetapi, yang patut ditelaah adalah ide kemajuan ala Eropa yang pernah dibayangkan oleh Kartini lewat suratnya. Kartini mendapatkan keberuntungan dengan penghadiran beberapa jenis bacaan, baik bahasa Belanda, Jerman, dan Prancis.

Di situ ia bisa mengeja kemajuan dan semangat pencerahan yang terjadi di Eropa dari kejauhan. Di buku terjemahan Sulastin Sutrisno, misalnya, kita menemukan surat yang ditulis kepada E. H. Zeehandelaar tertanggal 20 Mei 1901. Kartini berbagi kerisauannya tentang pembatalan program pemerintah untuk mendidik anak perempuan bupati menjadi guru.

Di balik keresahan itu, Kartini masih membangun imajinasi tentang kemajuan Eropa. Ia menulis: “Sedangkan di Eropah saja yang sudah maju itu, pusat peradaban, sumber Cahaya, perjuangan merebut hak perempuan masih sehebat dan sesengit itu.

Lantas, bolehkah kita mengharapkan, bahwa Hindia, yang telah berabad-abad lamanya tertidur itu dan yang masih tidur akan menyerah? Dan akan membiarkan perempuan yang dari abad ke abad dipandang dan diperlakukan sebagai makhluk yang kurang harganya itu memandang dirinya sebagai manusia yang berhak berpikir dan berperasaan bebas?”

Kutukan Poskolonial

Di surat lain tertanggal 10 Juni 1901 yang ditujukan pada Prof. Dr. G. K. Anton dan istrinya di Jerman, harus diakui juga memantikkan ide terhadap sains. Ia berangan-angan dapat berkunjung ke Jerman dan membayangkan pesawat.

Tulisnya begini: “Sementara itu kapal terbang pasti sudah ditemukan. Dan pada suatu hari yang baik, maka tuan akan melihat benda raksasa semacam itu melayang-layang di ruang angkasa Jena, yang membawa tamu yang jauh kepada tuan!”

Begitu pula pada ekspektasi dari keinginan tersebut. Kartini menyinggung sains. Ia menyatakan: “Itulah mimpi “Tiga Soedara”, tiga gadis kakak-beradik di tanah Matahari yang jauh! Aduhai! Seandainya kami dapat datang di negeri yang musimnya bergantai-gantai, negeri musim panas dan dingin, tanah asal ilmu pengetahuan, kami akan mencari bekal di sana untuk perjuangan besar yang hendak kami lakukan untuk keselamatan dan kebahagiaan bangsa kami kelak. Belajar! Belajar! Mengumpulkan kepandaian di Eropah; mengisi jiwa kami dengan keindahan, agar kembali ke tanah air dapat bekerja dengan hasil yang lebih baik untuk mewujudkan cita-cita kami!”

Cita-cita itu tak pernah terwujud. Agaknya ini yang berkemungkinan menjadi kesamaran gagasan Kartini terhadap sains, lebih-lebih menjadi sebuah teladan (role model) perempuan dalam sains. Di Eropa, sosok perempuan yang mengawali pencerahan pada sains salah satunya tersemat pada Marie Curie (1867–1934), yang lahir di Warsawa, Polandia.

Di tempat kelahirannya itu, ia juga mendapati nasib buruk berupa pembatasan perempuan untuk mendapatkan jenjang pendidikan tinggi saat Polandia berada di masa sulit di bawah penjajahan Rusia. Ia kemudian hijrah ke Perancis dan berkuliah di Universitas Paris. Curie memang akhirnya menetap di Prancis. Ia adalah ilmuwan perempuan pertama yang mendapatkan dua kali hadiah Nobel, yakni fisika (1903) dan kimia (1911).

Di era Orde Baru, Kartini pernah dilekatkan pada misi sains. Tepatnya pada momentum peringatan 100 tahun kelahiran Kartini berupa peresmian reaktor nuklir yang dinamakan “Reaktor Atom Kartini”.

Seremoni tadi, termuat di Majalah Mekatronika edisi No. 8 tahun 1979, hanya menjelaskan teknis, seperti dituliskan: “Selanjutnya setelah reaktor ini selesai dibangun, di test kekritisannya pada bulan Pebruari 1979, dan kemudian diresmikan oleh bapak Presiden RI Suharto pada tanggal 1 Maret 1979, dan diberi nama reaktor Kartini, guna memeringati hari Kartini yang ke-100 pada tanggal 21 April 1979.” Konon sematan “Kartini” itu justru akronim dari Karya Teknisi Indonesia.

Ketiadaan filosofi maupun ide keterhubungan sains pada Kartini, agaknya menjadi masalah besar. Ini berhubungan erat pada sains selepas kemerdekaan yang tidak diberangkatkan dari konstruksi yang tegas. Artinya, situasi poskolonial menghamparkan kenyataan bahwa rancang bangun sains kita samar.

Realitas ini pernah dikaji serius oleh Andrew Goss (2011) dalam buku terjemahan bahasa Indonesia berjudul Belenggu Ilmuwan dan Pengetahuan: Dari Hindia Sampai Orde Baru (2014). Nusantara memang menjadi laboratorium banyak ilmuwan terkemuka dari negara lain–sampai Christiaan Eijkman pada 1929 mendapat nobel bidang kedokteran–namun tidak menghasilkan ilmuwan itu sendiri.

Pada abad XXI, alih-alih untuk memperingati Hari Kartini, agaknya kita patut merefleksikan pada ranah sains, khususnya dalam tarikan terhadap perempuan. Betapa pun sains masih dijadikan stereotip bagi laki-laki. Kesenjangan ilmuwan di kalangan perempuan masih nyata.

Ini tak lepas dari konstruk yang mendominasi macam beban ganda yang ditanggung oleh kalangan perempuan, utamanya saat menjadi ibu. Kartini memang sulit untuk menjadi sebuah ide bagi ranah sains, namun dari serpihan gagasan yang pernah ditulis, kiranya patut untuk dilanjutkan dan dikembangkan dalam semangat keterlibatan perempuan pada perjuangan sains.[]

 

#Kartini #Sains #HariKartini #HabisGelapTerbitlahTerang #DoorDuisternisTotLicht# ReaktorAtomKartini #MarieCurie

PENULIS :
Foto
Joko Priyono
Fisikawan Partikelir dan Budayawan. Penulis Buku Alam Semesta dan Kebudayaan Berpengetahuan (2025). Sedang meriset perkembangan wacana sains dan teknologi di Indonesia 1945–1958.