Pertemuan Terakhir
Aku menghitung sisa waktu hari itu,
di sela-sela kita bertukar kata.
Aku mengamat cermat bibir merahmu
yang mungil dan setengah terbuka,
ketika kata-kata menguap perlahan
dan kita tenggelam dalam kebisuan.
Kita sama-sama tahu,
malam-malam akan terasa kian dingin,
dipenuhi rahasia yang tak dapat diungkap
dan hutang kerinduan yang tak mungkin kita lunasi.
Akhir waktu mulai merayap
pada salib yang tergantung di dinding rumahmu
dan pada nada adzan yang mengantarku pulang.
Tapi aku telah meninggalkan ingatanku di teras rumahmu,
ketika untuk terakhir kalinya bibir kita bertemu.
2025 – 2026
Aku Menjelma Hujan
Aku menjelma hujan dan mampir ke rumahmu.
Di halaman aku memanggil-manggil namamu,
tapi kamu tak kunjung membuka pintu.
Dan aku masih setia memanggil-manggil namamu,
hingga matahari pagi mengubur jasadku.
2025 – 2026
Sebuah Pesan
Malam ini aku menitipkan pesan kerinduan untukmu.
Kepada sunyi aku katakan, “Tolong sampaikan.”
Maka sunyi berjalan di sela-sela dingin hujan.
Tapi sesaat kemudian sunyi kembali dengan wajah muram dan basah.
“Ia tak mau mendengarkanku,” kata sunyi.
Aku memeluk sunyi, menggenggam tangan sunyi.
“Tak mengapa, kalau begitu kau temani aku,” kataku.
Aku dan sunyi ngobrol malam ini.
2025 – 2026
Seperti Buku
Seperti buku,
ingin kubaca dirimu
pada malam-malam sepiku.
2025 – 2026
Di Mana Kamu Ingin Dimakamkan?
Aku ingin dimakamkan di matamu.
2025 – 2026
Penghujung Senja
In memoriam: Jimbaran, Bali
Waktu kian menua,
tapi kenangan senantiasa muda:
Aku tegak berdiri di sana
memandang merah nyala
yang berkobar-kobar
membakar waktu dan ruang,
menjadikannya arang
hitam kelam.
Apakah hidup juga demikian,
hanya untuk tumbuh lalu luruh?
Bali, 2024 – 2025
Sebuah Tantangan
Wahai serdadu, bawalah kawan-kawanmu.
Kemarilah dan serbulah aku.
Mari kita adu antara kalian punya peluru dan hunusan penaku!
2025 – 2026