Pada Sabtu, 21 Maret 2026 lalu, pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447. Hari di mana seluruh umat menunggu untuk merayakan kemenangan setelah berpuasa 29-30 hari lamanya.
Pada hari itu juga terdapat serangkaian tradisi yang menyertainya seperti mudik. Mudik biasa dilakukan pada tujuh hari sebelum Lebaran, di mana orang-orang yang merantau mempersiapkan kepulangannya ke kampung halaman, untuk merayakan lebaran di kampung bersama keluarga.
Selain itu ada tradisi munjung yaitu kegiatan berkunjung ke rumah orang tua, kerabat, atau sesepuh yang dihormati dengan membawa hantaran untuk mempererat tali silaturahmi. Munjung umumnya dilakukan dua hari sebelum Lebaran.
Kemudian, ada lagi kendurenan atau mapak tanggal syawal. Di mana, warga berkumpul bersama membawa hantaran makanan olahan seperti nasi putih atau nasi gurih, ayam ingkung, urap sayur (gudangan), sambal goreng ati, telur rebus, mi goreng—sebentar saya ikut ngiler jadinya—beserta kue apem yang kemudian didoakan bersama.
Maksudnya jelas, yakni memohon berkah, keselamatan, dan ungkapan rasa syukur karena diberi kelancaran selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Kendurenan biasanya diadakan bakda magrib sebelum takbiran.
Saya ingat betul semasa kecil, takbiran itu baru dimulai bakda Isya karena menunggu hasil sidang isbat pemerintah sembari melakukan kenduren bakda Magrib. Kiranya begitu kata Mbah Modin ketika saya tanya kok musala tidak takbiran selepas Magrib. Ternyata setelah Magrib itu jatahnya untuk kendurenan sekaligus menunggu kepastian hilal.
Sekarang
Tapi kiwari, saya kok merasa Idul Fitri bukan lagi merayakan sebuah kemenangan yang hakiki. Memangnya kemenangan apa yang sedang kita rayakan? Kalau sampai di ujung bulan Ramadan saja kita justru saling meninggikan ego?
Jamaah satu dengan yang lain bersilang pendapat masalah penentuan kapan lebaran 1 syawal. Ada yang pamer pencapaian jumlah katam tadarus, ada yang pamer jumlah jamaah salat Idul Fitri (ini baru perkara antar jamaah).
Belum lagi nanti ketika bertemu keluarga: adu outfit, adu hampers, adu pencapaian putra-putrinya, menantunya, hingga cucunya. Pokoknya beradu-adu seperti debat pemilihan presiden.
Sebenarnya tidak masalah dan ini lumrah-lumrah saja. Kerabat yang lama tidak bertemu, pasti ingin saling tahu dan bertukar kabar, maka terjadilah percakapan sedemikian rupa, awalnya basa-basi lama kelamaan menyayat hati.
Saya dapat memaklumi itu karena saya sendiri pernah mengalaminya. Saat itu, ada kerabat yang memiliki anak seusia saya sudah kerja mapan, bisa mencicil kendaraan, mencicil rumah, bahkan sudah menikah, dan istrinya sedang mengandung waktu itu, sungguh gambaran keluarga muda yang harmonis.
Mereka berkunjung dan keluarga kami berpapasan, seketika, terjadi lah obrolan antara orangtua saya dengan kerabat saya itu. Tiba-tiba saya di todong pencapaian anak itu yang mendadak menjadi standar sosial dan moral yang harus saya pakai.
Saya menyadari, itu semua masalah jam sosial. Saya memang cukup tertinggal tapi saya tahu, tidak terlambat untuk memulai hanya saja mereka yang terlalu cepat mendahului.
Bayangkan saja. Waktu itu saya masih menganggur, tidak berpenghasilan tetap tapi dituntut untuk tetap berpenghasilan pusing, kan? Coba pikirkan secara logika!
Hampir tiga tahun saya menganggur dan hanya bekerja dari proyek ke proyek. Proyeknya cuma seminggu, dua minggu, tapi menganggurnya bisa tiga bulan lebih begitu terus siklusnya.
Jadi dengan itu, saya sudah terbiasa hidup dengan bayang-bayang ketidakpastian yang sangat menantang, seperti bekerja hanya untuk membiayai "masa menganggur" layaknya turis dari mancanegara. Parahnya lagi, di bulan Ramadan bisa dipastikan tidak ada tawaran kerja apapun yang masuk. Walhasil, puasa saya sangat utuh, yakni puasa lahir dan batin.
Bisa dibayangkan seperti apa menakutkannya pertanyaan bude dan bulek saya? Apesnya lagi kalau ada anak-anak kecil yang menghampiri saya minta pitrah atau THR. Jangankan memberi atau menerima THR saja tidak. Apalagi, ketika orang tuanya berkata, “jangan minta dulu ya Dek, Om ini belum kerja”.
Hm… mendengar hal tadi, rasanya malunya minta ampun. Tapi ya bagaimana lagi keadaannya seperti ini. Siapa yang mau kita salahkan? Voter 02? Atau pemerintah yang tak kunjung merealisasikan program sembilan belas juta lapangan pekerjaan?
Kehilangan Momen
Ketakutan-ketakutan semacam itu pernah saya rasakan, tidak memiliki status sosial dan tidak berpenghasilan adalah momok yang menakutkan pada saat itu. Padahal saya menggadang-gadang lebaran adalah momen yang tepat untuk merayakan kemenangan yang hakiki, yang sesungguhnya.
Dengan itu, saya berniat menjadi pribadi yang lebih baik lagi setelah membiasakan diri dengan ibadah puasa. Sebuah ibadah yang ketat selama sebulan penuh.
Di sisi lain, Lebaran menjadi momentum leburan atau meleburkan dosa dan kesalahan antarsesama dengan cara saling memaafkan. Setelah saling memaafkan maka saling mendoakan agar luberan atau rejeki yang melimpah saling berbagi kepada sesama. Bukan sarana memburu orang dengan pertanyaan-pertanyaan yang hanya memuaskan hati dan ego kita.
Ingat budeku semua! Kita boleh bangga dengan kesuksesan yang dicapai oleh anak, menantu, atau cucu. Tetapi kita juga tidak boleh sombong kepada orang yang belum diberi kesempatan yang sama.
Jadikan Lebaran sebagai ruang yang aman dan hangat untuk semua orang. Karena, momen Lebaran dan berkumpul adalah momen yang ditunggu-tunggu untuk berkumpul dengan keluarga, setelah setahun penuh berkumpul dengan cicilan dan tekanan kerja.
Sehingga, Lebaran harusnya jadi ruang kesetaraan bagi semua orang, termasuk bagi mereka yang sedang berjuang, bagi mereka yang sedang mencari arah. Juga untuk mereka yang sedang kembang-kempis nafasnya sebagai tulang punggung keluarga.
Biarlah gema takbir yang berkumandang itu benar-benar mengagungkan kebesaran-Nya, bukan malah menjadi backsound untuk merayakan kebesaran ego kita masing-masing. Seberapa tulus kita ingin merangkul mereka yang sedang kalah oleh keadaan. Itulah esensi kemenangan kalau dalam falsafah jawa "menang tanpo ngasorake" kemenangan tanpa merendahkan atau kemenangan yang tidak butuh validasi dari siapapun.