“Pernahkah kita merasa Lelah, padahal seharian tidak melakukan apa-apa?” Pertanyaan itu mungkin terdengar aneh. Bagaimana mungkin seseorang merasa lelah ketika sebagian besar waktunya hanya duduk, memegang ponsel, dan menggulir layar. Namun, itulah kenyataan yang sering dialami banyak anak muda hari ini.
Kita bangun tidur dengan suara notifikasi. Sebelum benar-benar membuka mata, tangan sudah mencari ponsel. Kita melihat pesan masuk, membuka media sosial, lalu masuk ke dunia yang tidak pernah benar-benar tidur.
Ada orang yang sedang sukses, ada yang sedang jatuh cinta, ada yang sedang mengejar mimpi, ada pula yang menunjukkan kehidupan yang terlihat sempurna. Semuanya hadir dalam satu layar kecil. Aneh, bukan?
Kita bisa tersenyum melihat kehidupan orang yang bahkan tidak pernah kita temui. Kita bisa merasa dekat dengan seseorang yang tidak mengenal nama kita. Kita bisa menghabiskan berjam-jam mengikuti cerita orang lain, tetapi sering kali lupa menanyakan kabar kepada diri sendiri.
Tanpa sadar, kita menjadi penonton dalam kehidupan orang lain. Sementara, cerita kita sendiri perlahan berhenti berjalan.
Melihat Hidup
Generasi Z adalah generasi yang paling dekat dengan dunia digital. Menurut laporan We Are Social dan Meltwater dalam Digital 2025: Indonesia, menyatakan masyarakat Indonesia menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari menggunakan internet dan media sosial.
Bagi generasi yang tumbuh bersama teknologi, media sosial bukan hanya menjadi tempat mencari informasi dan hiburan, tetapi juga ruang untuk belajar, membangun relasi, hingga membuka berbagai peluang. Namun, ada sisi lain yang jarang dibicarakan.
Media sosial bukan hanya tempat kita melihat dunia. Perlahan, ia juga mengajarkan kita bagaimana memandang diri sendiri. Leon Festinger, melalui teori Social Comparison Theory (1954), menjelaskan bahwa manusia secara alami cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain.
Di era media sosial, kecenderungan tersebut menjadi semakin kuat karena kita terus-menerus melihat potongan kehidupan orang lain yang tampak lebih menarik daripada kehidupan kita sendiri.
Setiap hari, FYP (for your page) menghadirkan orang-orang yang tampak lebih maju. Seseorang berhasil mendapatkan pekerjaan impian. Seseorang membangun bisnis di usia muda. Seseorang membeli sesuatu yang selama ini hanya kita impikan. Lalu muncul sebuah suara kecil dalam diri: "Kenapa aku belum seperti mereka?"
Pertanyaan sederhana itu sering kali muncul bukan karena kita benar-benar tertinggal, melainkan karena kita sedang melihat hasil akhir dari perjalanan orang lain. American Psychological Association (2023) juga mengingatkan bahwa penggunaan media sosial yang disertai kebiasaan membandingkan diri secara berlebihan dapat memengaruhi kesehatan mental, terutama pada remaja dan dewasa muda.
Padahal, kita sering lupa bahwa media sosial hanya menunjukkan satu halaman dari sebuah buku kehidupan. Kita melihat seseorang ketika ia berhasil, tetapi tidak melihat berapa kali ia gagal. Kita melihat senyum mereka, tetapi tidak mengetahui berapa banyak air mata yang pernah jatuh sebelum itu.
Kita membandingkan bab pertama hidup kita dengan bab kesepuluh hidup orang lain. Dan itu membuat kita merasa kalah dalam perlombaan yang sebenarnya tidak pernah ada.
Lupa Kepada Diri
Kita tahu trend terbaru. Kita tahu lagu yang sedang viral. Kita tahu kehidupan seorang kreator yang bahkan tinggal ribuan kilometer jauhnya. Namun, ketika ditanya: "Apa yang sebenarnya membuatmu bahagia?" Banyak dari kita terdiam. Kita terlalu sibuk mencari inspirasi dari luar, tetapi lupa mendengar suara dari dalam.
Algoritma mungkin tahu video apa yang membuat kita tertawa. Algoritma tahu apa yang membuat kita bertahan lebih lama di layar. Menurut penjelasan resmi TikTok Newsroom, halaman For You bekerja dengan merekomendasikan konten berdasarkan kebiasaan interaksi pengguna, sehingga apa yang kita lihat setiap hari sedikit demi sedikit ikut membentuk perhatian dan minat.
Bahkan cara kita memandang dunia. Namun, algoritma tidak pernah mengetahui mimpi apa yang ingin kita perjuangkan, luka apa yang sedang kita sembuhkan, dan alasan mengapa kita tetap bertahan hingga hari ini. Karena itu adalah cerita yang hanya kita sendiri yang bisa memahami.
Ada banyak hal berharga dalam hidup yang tidak pernah menjadi viral. Sebut saja, pelukan orang tua ketika kita gagal. Pesan sederhana dari teman yang bertanya, "Kamu baik-baik saja?" Perjuangan kecil ketika kita memilih bangkit setelah kecewa.
Usaha diam-diam ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Semua itu mungkin tidak mendapatkan ribuan likes. Tidak masuk halaman rekomendasi. Tidak menjadi konten yang dikagumi banyak orang. Namun, justru di situlah letak nilai kehidupan. Sebab tidak semua hal yang berharga harus disaksikan dunia.
Bunga tidak menjadi indah karena banyak orang memotretnya. Laut tidak menjadi luas karena banyak orang membicarakannya. Begitu juga manusia. Nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh seberapa banyak orang yang melihatnya, tetapi seberapa dalam ia mengenal dan menghargai dirinya sendiri.
Mulai menjadi Pemeran Utama
Mungkin masalah terbesar kita bukan karena terlalu sering membuka media sosial. Teknologi bukanlah musuh yang harus dijauhi, karena pada dasarnya teknologi hadir untuk membantu manusia berkembang, belajar, dan menciptakan berbagai peluang baru; tantangan terbesar bukan terletak pada seberapa sering kita menggunakan teknologi, melainkan bagaimana cara kita menggunakannya.
Sudah saatnya kita mengubah cara berhubungan dengan teknologi. Bukan dengan meninggalkan dunia digital, tetapi dengan menjadi pribadi yang lebih sadar dalam menggunakannya. Teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu kita berkembang, bukan menjadi tempat yang membuat kita merasa tidak cukup.
Media sosial bukan hanya tempat untuk menjadi penonton kehidupan orang lain. Media sosial juga dapat menjadi ruang untuk menciptakan sesuatu, membagikan ide, memperluas wawasan, dan membangun kesempatan. Di balik layar yang sama, ada orang-orang yang belajar keterampilan baru, membangun bisnis, menemukan komunitas, mendapatkan pekerjaan, bahkan mengubah hidup mereka.
Gunakan media sosial untuk belajar, bukan untuk menyiksa diri dengan perbandingan. Ikuti akun yang memberikan inspirasi, pengetahuan, dan motivasi. Gunakan internet untuk menemukan peluang, bukan hanya untuk melihat keberhasilan orang lain. Manfaatkan teknologi untuk memperluas dunia, bukan untuk membuat diri kita semakin jauh dari tujuan dan nilai yang kita miliki.
Generasi saat ini memiliki keuntungan yang tidak dimiliki banyak generasi sebelumnya. Kita hidup di masa ketika informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik. Menjadi bagian dari dunia digital bukan berarti harus selalu terlihat.
Tidak semua pencapaian harus diumumkan. Tidak semua proses harus mendapatkan pengakuan. Terkadang, pertumbuhan terbesar terjadi dalam diam, ketika seseorang terus belajar, memperbaiki diri, dan bekerja keras tanpa membutuhkan perhatian dari banyak orang.
Sebab hidup bukan tentang siapa yang paling sering muncul di layar. Hidup bukan tentang jumlah pengikut yang dimiliki, jumlah komentar yang diterima, atau seberapa cepat seseorang mencapai standar kesuksesan yang dibuat oleh dunia maya. Nilai seseorang tidak ditentukan oleh angka-angka yang terlihat di internet.
Kesuksesan bukan perlombaan untuk menjadi yang paling terkenal, tetapi perjalanan untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Ada orang yang berhasil lebih cepat, ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang. Keduanya tetap memiliki arti, karena setiap manusia memiliki prosesnya masing-masing.
Kita perlu berhenti menjadi penonton dalam kehidupan sendiri. Jangan hanya menyaksikan orang lain mengejar mimpi mereka, sementara kita terus menunda langkah kita sendiri. Jangan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi jadilah pencipta yang mampu memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan sesuatu yang berarti.
Mulailah dari hal kecil. Belajar sesuatu yang baru. Membuat karya sederhana. Mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Membangun hubungan yang positif. Menggunakan waktu di dunia digital untuk mendekatkan diri pada tujuan, bukan menjauh darinya.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Ia bisa menjadi jalan menuju perkembangan, tetapi juga bisa menjadi penghalang jika kita kehilangan kendali. Pilihan ada pada kita: apakah kita hanya akan menjadi penonton yang melihat kehidupan orang lain berjalan, atau menjadi pemeran utama yang berani menulis cerita hidupnya sendiri.
Dengan demikian, tidak perlu kita menampilkan seluruh kehidupan di media sosial. Tidak perlu kita menjiplak kehidupan orang lain dengan mengonsumsi ceritanya dan kehidupannya. Karena hidup bukan tentang siapa yang paling banyak dilihat orang lain. Hidup adalah tentang bagaimana kita terus bertumbuh, terus belajar, dan terus bergerak maju, bahkan ketika tidak ada yang melihat.