Gemati - Suara Rakjat
Esai Kerakjatan

Ketika Idulfitri Tak Lagi Sunyi

Muhammad Rafly Ramadan | 24 Mar 2026


Cover

Indonesia acap kali disebut negeri penuh riuh, tempat kabar panas tidak pernah benar-benar padam. Dari perdebatan panas di meja kekuasaan hingga berujung pada meja di warung kopi, percakapan selalu berdebar-debar karena tensi konflik nasional dan multinasional selalu mendera.

Bulan Ramadan hingga Idulfitri kehilangan makna. Ia datang tidak membawa jeda, hingga hiruk itu tak kunjung reda.

Justru, di tengah suasana suci, kegaduhan terasa lebih kontras. Seakan kesucian bulan lebaran kalah oleh bisingnya kepentingan.

Idulfitri selalu dipuja dan dipuji sebagai ruang perenungan, waktu paling tepat untuk menata ulang hati. Namun realitas memperlihatkan sebuah ironi, sebab pertikaian tetap saja berjalan seperti biasa. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih memicu perdebatan panjang, seolah empati telah tersisihkan dengan kepentingan politis segelintir elit.

Di belahan dunia lain, ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat-Israel makin memanas sehingga memicu Iran untuk menutup selat Hormuz dan mengguncang jalur perdagangan minyak di seluruh dunia. Dampaknya merembes pelas, masuk ke dapur, ke keresahan, hingga ke napas sehari-hari.

Belum lagi di Indonesia. Selain banyaknya kobaran api persoaalan yang tak kunjung padam, kita menyimak kisah pahit seorang aktivis KontraS yang disiram air keras. Perkara ini sangat menyayat hati nurani.

Peristiwa itu memperkeruh kondisi pemerintahan Prabowo-Gibran, kedaulatan hukum, dan mencuatnya dugaan akan militerisme politik seperti Orde Baru.

Juga, kasus korupsi penyelenggaraan haji yang memilukan. Memalukan. Menjadi tanda bahwa kekuasaan Illahi tidak lagi menjadi pantangan untuk melakukan hal keji.

Maka, Idulfitri tidak lagi sunyi. Makna Idulfitri sebagai seremoni bagi masyarakat buat saling memberi maaf kehilangan identitasnya. Hal ini membawa pada selogan “semua di maafkan kecuali pemerintah”.

Iblis Minta Pensiun

Kondisi tadi, membawa kita kepada pertanyaan, jika setan dibelenggu, mengapa kejahatan masih tumbuh subur? Narasi lama menyebut setan sebagai biang kerusakan, namun realitas menunjukkan wajah lain.

Manusia dengan akal dan nafsunya, ingin tetap bebas berkeliaran, tanpa rantai, dan tanpa benteng penjaga. Keserakahan, dendam, serta ego terus bergerak, bahkan saat gema takbir disenandungkan.

Dalam menjawab persoaalan tadi, Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii punya jawabannya. Dalam karyanya berjudul Tuhan Menyapa Kita (Divapress, 2020). Pendekar Chicago (gelar yang disematkan Gus Dur kepada Buya Syafii) itu bilang, bahwa iblis minta pensiun. Dikisahkan, iblis bercakap dengan Tuhan, mengaku khawatir justru tergoda oleh ulah manusia. Ungkapan itu sederhana, namun menghantam kesadaran:

Kisah itu menjadi semacam satire pahit bagi negeri ini. Filosofi “mumpungisme” tumbuh liar, seolah menjadi agama baru tanpa kitab. Selama ada celah, kesempatan diambil tanpa ragu, tanpa malu. Jabatan dilihat sebagai ladang, bukan amanah.

Hingga pada titik tertentu, manusia tampak lebih lihai dari setan. Ia lebih ahli dari iblis dalam urusan menipu, merusak, dan mengakali setelah itu merasa bangga.

Lebih dalam, Buya Syafii kembali mengingatkan sesuatu yang sering luput dari kesadaran. Dalam Al-Quran, tepatnya surah Az-Zumar ayat 53, terdapat seruan lembut namun dalam. Bahwa, Tuhan tidak pernah menutup pintu ampunan bagi siapa pun yang sungguh menyesal dan ingin kembali. Seburuk apa pun manusia terjatuh, selalu ada ruang untuk pulang. Ia pun tak luput mendoakan pejabat negeri ini agar segera bertaubat.

Di titik ini, Idulfitri seakan berdiri di persimpangan makna. Ia bukan sekadar cermin, tetapi juga pintu. Namun pintu itu tidak memaksa siapa pun untuk masuk.

Ia hanya terbuka, menunggu kesadaran datang dari dalam. Sementara di luar, dunia tetap bergerak dengan segala hiruknya, dengan segala luka yang terus diperbarui.

Indonesia dengan segala riuhnya seperti panggung tanpa jeda. Korupsi, kekerasan, serta tarik-menariknya kepentingan terus berulang sepanjang bulan suci lalu hingga Idulfitri ini.

Ada ironi saat doa-doa dipanjatkan, tetapi praktik curang tetap berjalan. Seakan ada dua wajah berjalan berdampingan, satu religius, satu oportunis. Dan keduanya sama-sama merasa benar.

Idulfitri seperti musim. Ia datang lalu pergi tanpa benar-benar mengubah arah. Di saatu hari penuh kesejukan. Orang-orang saling memaafkan, jalanan dipenuhi senyum, hati seolah menemukan jeda.

Namun kesejukan itu seperti embun pagi, cepat menguap saat matahari meninggi. Esok harinya, riuh kembali mengambil tempatnya. Setiap tahun, harapan diperbarui, namun pola lama pasti kembali muncul. Seperti lingkaran tak berujung, terus berputar tanpa titik henti. Manusia tampak sibuk memperbaiki citra, bukan memperbaiki makna. Apakah kesucian hanya menjadi simbol tanpa daya?

Adakah

Banyak pertanyaan yang belum terjawab sebagai simbol kegelisahan umat manusia, belum lagi jika melihat kondisi negeri ini dengan berbagai macam para pejabat yang lupa bahwa jabatan itu hanya amanah dari rakyat bukan tanda ia cerdas melebihi kecerdasan orang lain.

Jika setan benar dibelenggu, mengapa keburukan tetap menemukan jalannya? Jika bahkan iblis memilih mundur, siapa sebenarnya aktor utama di balik segala kekacauan ini? Dan ketika pintu ampunan terus terbuka, mengapa begitu sedikit langkah berani untuk benar-benar kembali (fitrah)? Adakah diantara kita mampu mengembalikan kesunyian Idulfitri ini?

 

 

PENULIS :
Foto
Muhammad Rafly Ramadan
Penjaga Kafebaca Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta