Gemati - Suara Rakjat
Sastra Gandrung

Di Depan Cermin dan Puisi Lainnya

Femas Anggit Wahyu Nugroho | 27 Jul 2026


Cover

Di Depan Cermin

Malam ini kutemui dirinya,

teman setia mengaja luka dan duka,

tanpa kata-kata.

2025 – 2026

 

***


Keinginan Ibu

Sebelum saya pergi merantau, Ibu membisikkan keinginan kecilnya, “Nak, hidup ini berat. Oleh karena itulah, Ibu ingin kau mencari kekasih sejati di perantauan nanti. Setelah mendapatkannya, bawalah ia kemari.”

Saya bertanya-tanya pada Ibu, “Kekasih sejati itu seperti apa, Bu?”

Ibu menodongkan telunjuknya ke dada kiri saya dan berkata, “Yang membuatmu mengenal dirimu sendiri.”

Keinginan kecil Ibu itu mengendap dalam ingatan saya selama bertahun-tahun di perantauan. Hingga hari ini, ketika untuk pertama kalinya saya kembali pulang ke rumah, Ibu saya bertanya dengan napas yang megap-megap, “Nak, kau sudah mendapatkan kekasih sejati?”

Saya menitikkan air mata. Saya menggenggam dan mengelus tangan Ibu saya dan berkata, “Sudah Bu, tak perlu Ibu mengkhawatirkan diriku.”

Napas Ibu semakin megap-megap, tapi Ibu masih saja sempat bertanya, “Lalu, di mana kekasih sejatimu itu, Nak? Kau tidak membawanya kemari? Kau tidak berniat mengenalkannya pada Ibumu ini?”

Air mata saya mulai menderas dan saya berkata lirih, “Kesendirian adalah kekasih sejati saya, Bu. Kesendirian membuat saya mengenal diri saya sendiri.”

Tapi saya yakin Ibu tak sempat mendengar perkataan saya kali ini.

2025 – 2026

 

***


Tentang Seorang Pedagang Bakso

Ting ting ting.

Terdengar ia membuat sebuah panggilan,

tapi tak kunjung seorang pun datang.

Ia menghangatkan tubuhnya dengan jas hujan,

yang bertambal doa di kiri dan kanan.

Ia melindungi kepalanya,

dengan caping bermotif anyaman resah dan duka.

Ia berdiri tegak di sana, di pinggir jalan

bersama gerobaknya yang masih dipenuhi bulatan tekad

yang dibawanya sedari pagi.

Ting ting ting.

Sekali lagi ia membuat sebuah panggilan,

kali ini ada yang datang: petang.


2025 – 2026


***


Pencarian

 

kucari Engkau

ketika hari masih kanak-kanak

pada binar matanya yang baru saja terbuka

 

kucari Engkau

ketika hari beranjak remaja

pada tangan-tangannya yang riang di udara

 

kucari Engkau

ketika hari mulai dewasa

pada langkah-langkahnya yang tegap mantap

 

kucari Engkau

ketika hari telah menua

pada rambutnya yang mulai meranggas

 

akhirnya kutemui Engkau

telah selalu bersamaku

di sepanjang usia waktu

 

2025 – 2026

 

*** 


Mata Pena

 

mata pena menitikkan kerinduan

pekat dan kental

 

membasahi pori-pori

kertas putih, meresap

 

menjelma aksara-aksara di sana

tak kunjung terbaca

 

berakhir sia-sia

 

2025 – 2026

 

***


Dalam Tubuh Puisi

 

tak perlu kau risaukan

ketika kita menua dan mata mulai rabun

telah kupercayakan mata kita

pada wajah kata

 

tak perlu kau khawatirkan

ketika kita menua dan tangan mulai gemetaran

telah kuamanatkan tangan kita

pada lengan larik

 

tak perlu kau cemaskan

ketika kita menua dan kaki mulai sempoyongan

telah kupasrahkan kaki kita

pada paha bait

 

di sini kita leluasa:

memandang

bergandengan

berjalan

 

kita telah abadi

dalam tubuh puisi

 

2025 – 2026

 

***

 

Warisan Adam dan Hawa

 

Atas ketetapan Tuhan,

Adam dan Hawa turun dari sorga

membawa kerinduan purba akan asal muasal dirinya

untuk diwariskan pada anak cucunya

 

2025 – 2026


***

PENULIS :
Foto
Femas Anggit Wahyu Nugroho
Lahir dan tinggal di Pati, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya dimuat di media massa digital dan cetak. Dapat disapa melalui Instagram: @femasn