Di Depan Cermin
Malam ini kutemui dirinya,
teman setia mengaja luka dan duka,
tanpa kata-kata.
2025 – 2026
***
Keinginan Ibu
Sebelum saya pergi merantau, Ibu membisikkan keinginan kecilnya, “Nak, hidup ini berat. Oleh karena itulah, Ibu ingin kau mencari kekasih sejati di perantauan nanti. Setelah mendapatkannya, bawalah ia kemari.”
Saya bertanya-tanya pada Ibu, “Kekasih sejati itu seperti apa, Bu?”
Ibu menodongkan telunjuknya ke dada kiri saya dan berkata, “Yang membuatmu mengenal dirimu sendiri.”
Keinginan kecil Ibu itu mengendap dalam ingatan saya selama bertahun-tahun di perantauan. Hingga hari ini, ketika untuk pertama kalinya saya kembali pulang ke rumah, Ibu saya bertanya dengan napas yang megap-megap, “Nak, kau sudah mendapatkan kekasih sejati?”
Saya menitikkan air mata. Saya menggenggam dan mengelus tangan Ibu saya dan berkata, “Sudah Bu, tak perlu Ibu mengkhawatirkan diriku.”
Napas Ibu semakin megap-megap, tapi Ibu masih saja sempat bertanya, “Lalu, di mana kekasih sejatimu itu, Nak? Kau tidak membawanya kemari? Kau tidak berniat mengenalkannya pada Ibumu ini?”
Air mata saya mulai menderas dan saya berkata lirih, “Kesendirian adalah kekasih sejati saya, Bu. Kesendirian membuat saya mengenal diri saya sendiri.”
Tapi saya yakin Ibu tak sempat mendengar perkataan saya kali ini.
2025 – 2026
***
Tentang Seorang Pedagang Bakso
Ting ting ting.
Terdengar ia membuat sebuah panggilan,
tapi tak kunjung seorang pun datang.
Ia menghangatkan tubuhnya dengan jas hujan,
yang bertambal doa di kiri dan kanan.
Ia melindungi kepalanya,
dengan caping bermotif anyaman resah dan duka.
Ia berdiri tegak di sana, di pinggir jalan
bersama gerobaknya yang masih dipenuhi bulatan tekad
yang dibawanya sedari pagi.
Ting ting ting.
Sekali lagi ia membuat sebuah panggilan,
kali ini ada yang datang: petang.
2025 – 2026
***
Pencarian
kucari Engkau
ketika hari masih kanak-kanak
pada binar matanya yang baru saja terbuka
kucari Engkau
ketika hari beranjak remaja
pada tangan-tangannya yang riang di udara
kucari Engkau
ketika hari mulai dewasa
pada langkah-langkahnya yang tegap mantap
kucari Engkau
ketika hari telah menua
pada rambutnya yang mulai meranggas
akhirnya kutemui Engkau
telah selalu bersamaku
di sepanjang usia waktu
2025 – 2026
***
Mata Pena
mata pena menitikkan kerinduan
pekat dan kental
membasahi pori-pori
kertas putih, meresap
menjelma aksara-aksara di sana
tak kunjung terbaca
berakhir sia-sia
2025 – 2026
***
Dalam Tubuh Puisi
tak perlu kau risaukan
ketika kita menua dan mata mulai rabun
telah kupercayakan mata kita
pada wajah kata
tak perlu kau khawatirkan
ketika kita menua dan tangan mulai gemetaran
telah kuamanatkan tangan kita
pada lengan larik
tak perlu kau cemaskan
ketika kita menua dan kaki mulai sempoyongan
telah kupasrahkan kaki kita
pada paha bait
di sini kita leluasa:
memandang
bergandengan
berjalan
kita telah abadi
dalam tubuh puisi
2025 – 2026
***
Warisan Adam dan Hawa
Atas ketetapan Tuhan,
Adam dan Hawa turun dari sorga
membawa kerinduan purba akan asal muasal dirinya
untuk diwariskan pada anak cucunya
2025 – 2026
***