Gemati - Suara Rakjat
Esai Kerakjatan

BERSEPEDA

Fahrul Anam | 08 Apr 2026


Cover

Pada waktu masih berseragam putih merah, kira-kira satu dasawarsa silam, bersepeda adalah suatu hal lumrah buat kita. Bersepeda itu kebutuhan. Menempuh jarak dari rumah menuju sekolah dengan menunggangi sepeda

Waktu itu, sepeda puspa ragam. Ada yang memakai sepeda model BMX dengan gir torpedo sehingga bisa bergaya-gaya (freestyle) dan berjalan mundur lalu memutar-mutar kemudinya laiknya gangsingan.

Ada juga sepeda berwujud drag. Kemudinya di pepetkan dengan kerangka. Sehingga, ketika manikinya badan kita membungkuk hampir mencium stang seperti Valentino Rossi saat ia masih menjadi raja sirkuit MotoGP—semoga The Doctor sehat selalu.

Itu dikalangan bocah. Untuk yang muda-mudi, pernah booming sepeda fiksi (fixie). Sepeda itu modelnya simpel. Minimalis dan bobotnya ringan. Rodanya ramping. Tidak memerlukan rem.

Hanya saja, gernya biasa memakai torpedo yang bisa untuk berjalan ke belakang. Atau, menggunakan ger doltrap yang kalau di pedalnya di tahan, maka seketika sepedanya akan mengerem secara otomatis. Settt. Juga, sepeda fiksi umumnya mempunyai warna yang moncer. Dari kerangkanya, stangnya, sampai pada ban dan ruji-rujinya.

Munculnya gema sepeda fiksi di era 2000-an itu, menjadi gerbang pembuka menuju pergeseran akan bersepeda yang sebelumnya, menjadi kebutuhan akan mobilitas seseorang untuk mempersingkat waktu perjalanan dan bagi sebagian orang sebagai sarana mengolah jiwa raga supaya tambah sehat, kini bergeser menjadi gaya hidup (lifestyle). Dari kebutuhan menjadi komoditas kepuasan.

Komoditas itu diproduksi dan dipasok oleh sebuah kelompok yang ada di atas, kepada kelompok yang ada di bawahnya sebagai konsumen. Proses ini, kemudian mengkristal sebagai budaya populer. (Ariel Heryanto dalam Identitas dan Kenikmatan, KPG, 2015)

Skena

Kini sepeda menjelma sebagai budaya populer. Kita tidak bisa mengelak. Kita menyaksikan bertebarnya kelompok atau komunitas pesepeda di kalangan muda-mudi. Khususnya di daerah urban.

Mereka bersepeda secara terjadwal. Dengan rute yang lumayan jauh. Setelah itu, tidak lupa mampir di coffeeshop. Menikmati kopi yang harganya lima kali lipat dengan segelas kopi kapal api di warung.

Sepeda-sepeda yang ditunggangi kakak-kakak itu, tidak murah. Belum orangnya. Dari bawah sampai atas, bisa dihitung berapa duit yang dibutuhkan kakak-kakak yang sedang bersepeda menyusuri kota. Sunnahnya, mengenakan outfit bermerek.

Paling tidak, mengenakan kaos grup band original yang harganya dua ratusan ribu. Belum lagi menggunakan jam tangan yang bisa mengukur denyut nadi dan menghitung jarak tempuh. Pokoknya, ubo rampe buat bersepeda itu banyak.

Mungkin, kalau dikalkulasi, modal untuk bersepeda tadi, bisa buat modal menanam sayur-mayur. Sebuah langkah preventif kalau krisis pangan karena perang di Teluk Arab.

Elitisme

Itulah fenomena sosial. Menyajikan polah-tingkah manusia yang penuh anomali. Berputar. Menggeser makna dari sebuah perilaku. Menyesuaikan zaman.

Bersepeda adalah trend. Tentunya, gema ini tidak turun dari langit. Melainkan ada sebabnya. Ada sebab timbulnya sebuah kebakaran. Kita kenyang kalau tidak merasakan lapar. Begitu juga skena bersepeda ini, pasti ada segelintir orang yang bernaung di sebuah kelompok kecil dengan hobi bersepeda ala kekinian. Inilah yang kemudian kita sebut dengan elit.

Elit itu sebuah kelompok kecil yang ada di masyarakat. Kecil tetapi vital. Seperti kartu ATM, meskipun kecil dan tipis, namun peran dan pengaruhnya amat besar dalam kehidupan kita, menjadi jimat buat menjalani hidup. Lebih lanjut, kita membaca buku bertajuk Elit, Massa, dan Kekuasaan: Suatu Bahasan Pengantar yang ditulis Dr. Haryanto terbitan PolGov, UGM Yogyakarta.

Elit, secara terminologi, sebagaimana dikutip dari elite theorists seperti Vilfredo Pareto, Gaetano Mosca, dan Suzanne Keller mengungkap bahwa kelompok elit adalah sekelompok individu yang ada di masyarakat yang memiliki keunggulan dan superioritas apabila dibandingkan dengan kelompok atau golongan lainnya.

Kelompok elit yang bersemayam di masyarakat dengan ciri khasnya masing-masing memainkan peran yang sentral dalam pola kehidupan di masyarakat. Meskipun mereka berjumlah sedikit, kelompok minoritas, tetapi mereka punya keunggulan dan kelebihan yang dapat memerintah—bahkan memaksa—individu atau kelompok buat tunduk, patuh pada mereka.

Maka, dengan segenap “rudal-rudalnya” kelompok muda-mudi pesepeda itu, sanggup menginvasi kebudayaan dan pola kehidupan sosial masyarakat lewat aktivitas-aktivitasnya. Baik secara nyata maupun geliatnya di media sosial.

Sehingga, dengan pengejawantahan tadi, kini kita--agaknya--perlu menanyakan, apa tujuan kita bersepeda? Kalaupun untuk menyehatkan jiwa-raga atau healing semata mengapa harus menggunakan sepeda yang lumayan mahal dan atribut bermerek yang mahal pula?

Efisiensi

Pertanyaan sekaligus pernyataan tadi tiada perlu diperdebatkan. Pasalnya, ihwal bersepeda ini, menjadi dalih kebijakan politik yang boleh dibilang aneh. Ini berpijak dari SE (surat edaran) dari Kementerian Dalam Negeri akan himbauan bagi pegawai negeri sipil untuk bersepeda dari rumah menuju kantor dengan efisiensi sumber daya energi sebagai alasannya.

SE itu kemudian didesentralisasikan ke pemerintah daerah. Saya membaca himbauan dari SE tersebut dari status WhatsApp pegawai negeri yang bernaung di Sragen dan Ngawi. Isinya sama, yaitu didasarkan oleh penghematan energi dan BBM. Karenanya, mereka disuruh untuk menaiki sepeda dari rumah ke kantor dengan radius tujuh kilometer, atau menggunakan sepeda listrik.

Mungkin, SE tadi ada hubungannya dengan perseteruan antara Iran dengan Amerika Serikat. Mengingat, lalu lintas perdagangan bahan bakar minyak dunia sedang diblokade. Namun, di lain pihak, ada sahabat saya yang menduga, “paling kebijakan itu hanya dalih dari pemerintah supaya ‘permainan para elit politik’ tetap aman”.

Kata teman saya tadi, membikin mata melirik ke kanan atas. Kalau kita mengeksplor negara kita, Indonesia, adalah bentangan alam nun kaya. Di daratan terkubur cadangan minyak dan emas berton-ton barrel, tanahnya subur; dengan cepat bisa menumbuhkan biji semangka yang kita keluarkan dari mulut ke tanah.

Itu di darat. Di laut, biota lautnya melimpah. Beraneka ragam ikan untuk disantap. Bahan bakar minyaknya pun juga terkandung di dasar lautan Nusantara.

Sayangnya, kekayaan tadi mayoritas tidak kita miliki. Kemegahan tadi di miliki bangsa lain. Bangsa kita hanya jadi satpam di rumah sendiri. Ironi!

Begitulah soal bersepeda. Dalam setiap genjotan dan rodanya yang menggelinding, tercipta sebuah drama di balik layar yang kontroversial. Sudahkan Anda bersepeda?

 


PENULIS :
Foto
Fahrul Anam
Pembeli buku-buku bekas. Penikmat kopi Arabika V60.