Gemati - Suara Rakjat
Siraman Rohani

Al-Quran dan Pengalaman

Fahrul Anam | 15 Mar 2026


Cover

Saya mengenal Al-Quran sejak umur sekolah dasar. Orang tua menyuruh saya pergi ke TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) di desa. Mula-mula, saya belajar Iqra yang di sampul belakangnya terdapat foto seorang kakek memegang tongkat. Bab satu sampai enam tamat, lantas mengaji Juz Amma yang berisi surat-surat Al-Quran yang berada juz tiga puluh. Setelah itu, saya baru mengenal surat Yasin.

Mula-mula, saya didelegasikan buat mewakili bapak buat ikut Yasinan-Tahlilan. Dari pengalaman inilah saya mengenal surat Yasin. Awalnya, membaca surat Yasin memang lama karena belum terbiasa. Namun, selama hidup ini dan setelah ratusan kali membaca surat ini ternyata hanya menyita waktu sepuluh sampai lima belas menit sudah cukup buat membacanya. Bukankah itu cukup efisien?

Dulu, saya hanya mengetahui bahwa surat Yasin adalah surat yang dikhususkan buat orang meninggal dunia. Namun, semakin bertambahnya pengetahuan dan pengalaman, ternyata surat Yasin itu sangat ampuh dan konon, lebih ampuh ketimbang surat-surat lain. Seperti kata kiyai-kiyai yang saya dengar waktu Kutbah Jumat. Bahwa, ibarat Al-Quran itu manusia, nah surat Yasin itu adalah hatinya. Jadi Yasin itu adalah inti Al-Quran.

Pengalaman

Dari surat Yasin, rasa penasaran (curiosity) akan surat-surat yang terbentang di Al-Quran semakin menderu-deru. Pikiran dan hati terpanggil buat membacanya. Hingga, dua tahun belakangan, saya mulai membaca dari awal, Al-Fatihah dan Al-Baqarah. Saya lawan malas—yang menjadi musuh utama manusia—itu. Memprioritaskan waktu luang buat membaca Al-Quran ketimbang rebahan. Dan, dari situ saya mendapat pengalaman-pengalaman.

Jelas. Pengalaman-pengalaman itu mayoritas tidak masuk di akal. Apakah ada korelasi antara setelah membaca surat Al-Waqiah dengan kelancaran rezeki dan mendapatkan rezeki yang tidak terprediksi? Kalau memakai ilmu ekonomi jelas tidak ketemu.

Karena, kalau kita ingin mendapat rezeki, kita harus berkerja. Memeras keringat. Menguras pikiran dan emosional kita. Setelah itu, barulah seseorang mendapatkan rezeki.

Tetapi, pengalaman saya berbicara lain. Di pagi hari, sebelum saya memulai berbagai aktivitas yang salah satunya adalah berjualan nasi dan beberapa jenis minuman di gerobak, saya menyempatkan waktu buat membaca Al-Waqiah. Meskipun itu jarang, amat jarang. Namun, banyak magic yang terjadi setelah membaca surat yang berarti hari kiamat itu.

Misalnya, baru sepuluh menit menggelar lapak dagangan, gerobak angkringan saya sudah dihampiri orang yang ingin ngopi dan sarapan. Alhamdulillah. Puji Tuhan sang pemberi dan pengatur rezeki. Dan, hingga sore, laba yang saya peroleh bersama ibu lumayan banyak. Bahkan sangat banyak.

Meskipun ini menjadi misteri. Karena, pola ini tidak berjalan saban hari, namun ini adalah “sinyal ilahi” yang menandakan bahwa Al-Quran itu menjadi kran yang siap mengalirkan rezeki bagi siapa saja yang mau dan berniat membaca dan memahami maknanya.

Selain itu, waktu itu, saya lagi pusing. Biasa. Pusing perkara berpindah posisi pekerjaan, karir, dan masa depan (menikah dan menabung buat membeli rumah). Namun, saya melawan pusing itu dengan membaca Al-Waqiah juga Yasin.

Dan, muncul semburat keindahan senja yang menyinari dan menenangkan hati juga pikiran. Diri lebih menjadi lebih bersyukur atas status dan pekerjaan yang kini disandang. Toh, kalau semisal ingin bekerja di bidang lain kita masih menunggu sembilan belas juta lapangan pekerjaan, bukan?

“Bersyukur adalah perintah Al-Quran”. Ungkapan tu sering kita dengar melalui para penceramah atau kiyai di pelbagai forum. Bahwa, barang siapa yang bersyukur, pandai dalam bersyukur atas segala hal dan atribut-atribut yang melekat pada diri kita, niscaya Allah Swt. akan melipat gandakan kenikmatan untuk kita. Lalu, apakah kita harus tetap bersyukur mempunyai pejabat negara sekaliber Bahlil-Gibran?

Itu perkara lain, bersyukur akan kondisi dan keadaan, merupakan hal penting supaya kita tidak iri hati. Bahkan dengki. Termasuk, sebagian dari kita, tidak terima menjadi warga negara Indonesia atau lahir sebagai rakyat Indonesia.

Memang, kalau kita melirik negara lain, jelas kita kalah jauh. Segalanya. Kita ingin sistem pendidikan seperti Finlandia, ingin menjadi negara bersih dan terdisiplin seperti Jepang, dan ada yang ingin supaya Indonesia memiliki nuklir seperti Iran. Pokoknya, kita ingin menjadi rakyat dari negara yang canggih-canggih itu.

Namun, sekali lagi, kalau kita memahami Al-Quran supaya lebih bersyukur. Pasalnya, kita bakal bersyukur menjadi bangsa Indonesia meskipun di satu sisi menerima kebrobokan sistem dan pejabat pemerintahannya, tetapi di sisi lain, bentang alam Indonesia ini adalah kepingan-kepingan surga.

Kalau kita membaca Ar-Rahman, kita bisa mengetahui dan membayangkan bahwa surga, sebagai balasan bagi umat Islam yang mengerjakan amal saleh dan tidak melakukan larangan-Nya di dunia, adalah tempat penuh kenikmatan. Di situ, dihuni bidadari-bidadari cantik jelita, mengalir sungai di bawahnya, dan kita bisa memetik buah-buahan sesuka hati.

Saya menganalogikan visualisasi surga tersebut dengan tempat-tempat wisata alam yang pernah saya kunjungi. Sebutlah Tawangmangu, kawasan lereng gunung Lawu di Jogorogo, Ngawi, juga di Wonosobo. “Wah. Ini seperti yang dilukiskan Allah di Al-Quran itu. Subhanallah. Indah tiada tanding”. Itulah batin saya seraya menikmati karya Tuhan yang dianugerahkan kepada Indonesia.

Rasional Mistik

Pengalaman-pengalaman bersama Al-Quran yang terhampar tadi, bisa kita sandingkan apa yang dijelaskan Muhammad Iqbal sebagai rasional mistik. Menurut filosof Muslim dan penyair asal Pakistan itu, rasional mistik adalah usaha merasionalisasi pengalaman-pengalaman mistik (tidak logis) yang dialami segenap umat Islam dalam kehidupannya di dunia.

Umat Islam, dalam menunaikan urusan-urusannya tidak lepas dari kehendak akal dan pedoman agama. Acap kali, kita mempertentangkan keduanya demi memilih pilihan duniawi. Melihat keadaan ini, Iqbal berkehendak untuk mengintegrasikan pengetahuan rasio dengan ketetapan agama supaya umat Islam tersebut tidak kehilangan esensi dan eksistensinya sebagai hamba Allah dan makhluk berakal. (Raha Bistara, 2022)

Begitulah Al-Quran. Kitab sempurna dan penyempurna. Menjadi ageman lan ugeman hidup bagi segenap umat Islam bahkan seluruh manusia yang ingin menyingkap misteri alam semesta. Sudahkah kita membaca Al-Quran? Wallahualam.

 

 



PENULIS :
Foto
Fahrul Anam
Pembeli buku-buku bekas. Penikmat kopi Arabika V60.