Gemati - Suara Rakjat
Siraman Rohani

Promo Ramadan: Memateriilkan yang Imateriil

Moh. Hamzah Sidik | 03 Mar 2026


Cover

Saban Ramadan, saya menyempatkan waktu buat membuat status atau foto dengan keterangan cerita yang saya beri tajuk Ramadan Story. Dan itu, saya buat sebulan penuh. Namun, Ramadan tahun ini, sebuah Ramadan yang sekali berbeda. Di samping bertepatan dengan perang rudal dan drone antara Iran melawan Amerika-Israel, kali ini saya agak kepyoh. Tidak selonggar tahun-tahun lalu. Maklum, sekarang saya sudah bisa menggaji orang.

Jadi beberapa hari yang lalu, saya dan teman saya sedang mengendarai motor. Motor di gas menuju acara buka bersama di daerah Palmerah, Jakarta Barat. Waktu tertanda sore. Jelas ramai. Semua beradu saling mendahului entah berangkat, pulang, atau sekedar menghabiskan waktu sambil menunggu waktu berbuka puasa.

Saya menghela nafas panjang bermaksud hati mengatur emosi sembari beristighfar melihat kondisi yang sebenarnya tidak pernah saya lihat saat di kampung halaman. Kemacetan, saling serobot, klakson berderu-deru seperti sirine peringatan serangan udara, motor yang menerobos trotoar, umpat-mengumpat yang sempat, dan banyak kericuhan lain, pokoknya amburadul.

Saya memang merasa terganggu tapi mau bagaimana lagi mungkin ini yang disebut, “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”. Jadi saya harus menghargai kebudayaan setempat meski dalam batin meronta-ronta.

Hingga sampai di sebuah persimpangan jalan, saya melihat sebuah spanduk di SPBU. Di situ ada hal yang membuat mata saya terbelalak sembari mengernyitkan jidat. Saya pejamkan mata berkali-kali; memastikan bahwa saya tidak ngelindur. Lantas saya serius memandang dan mencerna tulisan tersebut, sambil mencolek teman saya untuk ikut menyimak tulisan tersebut secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Pihak SPBU menawarkan promo spesial Ramadan kepada para pengendara yang hendaknya singgah di SPBU tersebut dengan tawaran, “Ngaji satu juz, gratis mengisi dua liter pertalite”. Entah menariknya dimana dan adakah orang yang melakukannya, saya cuma membatin hebat sekali pengelola SPBU ini dalam waktu bersamaan mereka bisa menakar sebuah pahala mengaji dan mematerialkan pahala tersebut setara dengan dua liter pertalite.

Sembari tertawa tipis saya berpikir juga batin. Bahwa, ini adalah ijtihad termoncer dalam hal ganjaran. Janganpun komisi fatwa MUI maupun bidang bahtsul masail NU, para fuqaha kondang pun tampaknya belum membahas ini.

Dari promo SPBU yang mengonversi pahala mengaji menjadi dua liter bensin tadi, saya teringat Ramadan di kampung. Selama dua dekade lebih saya berpuasa di kampung halaman belum pernah melihat promo Ramadan seunik ini. Karena bagi kami, mengaji adalah kewajiban. Satu hari pasti mengaji satu ruku. Kalau tidak sempat ya, satu ayat atau dua ayat mengulang hafalan waktu ngaji dulu.

Karena kalau tidak mengaji pasti kena omelan; celoteh orang tua. Atau, menerima sabetan ranting pohon yang berserakan di sekitar rumah. Jadi bayangan saya dulu meninggalkan ngaji adalah menjemput siksa neraka di dunia. Mmm… memang agak menakutkan. Tapi, begitulah dulu, orang tua saya kalau mendidik.

Dengan melihat promo mengaji satu juz dapat dikonversi menjadi dua liter pertalite, agaknya bisa saya bayangkan jika pahala bisa di materiil-kan atau bisa berwujud? Padahal, seingat saya kalau mengaji di bulan Ramadan itu satu huruf mendapat pahala sepuluh kebaikan dan bisa berlipat ganda. Mengonversi pahala menjadi sebuah benda adalah hal yang mengguncang pikiran.

Promo tadi, mungkin punya tujuannya baik. Yakni, memotivasi masyarakat untuk lebih semangat dalam beribadah. Tapi coba bayangkan kalau semua kebaikan di muka bumi ini bisa dikonversikan? Namun, promo yang mematerial-kan yang immaterial ini, janggal bagi saya. Pasalnya, tidak begitu logis.

Apakah bisa manusia itu mengonversi pahala? Pasti banyak yang berbuat baik agar pahalanya di bayar kontan. Misalnya, orang sedekah. Supaya dapat menjadi pemancing rezeki. Tetapi, apakah selalu atau pasti selalu pintu rezeki itu terbuka dengan mempersembahkan materi? Bisa jadi, dan biasanya, berbentuk lain. Yakni secara Immateriil atau hal yang tidak kasat kehidupan kita: mungkin ketenangan jiwa dan hati, rajin beribadah, sampai mendapat jodoh.

Karenanya, berkaca dari promo satu juz di bulan Ramadan menjadi dua liter pertalite ini, bisa menjadi sarana muhasabah bagi kita untuk selalu meluruskan niat Bukankah penceramah salat Tarawih bilang: “Jamaah sekalian, niatkanlah setiap ibadah dan perbuatan baik kita di dunia karena Allah Swt. Untuk mendapatkan rida-Nya, ampunan-Nya”.?

Kalaupun mengaji demi MBG (Mendapat Bensin Gratis) ini dilakukan, mungkin bakal tersandung. Karena, ini berwatak eksklusif dan tidak ramah. Karena, pastilah ada kecemburuan yang timbul. Utamanya dari kalangan non-Muslim.

Namun, setelah apa yang saya hamparkan tadi, hanyalah sebuah komentar saya saja. Barangkali saya juga ada kesalahan dalam melihat sudut pandang fenomena ini. Setidaknya, bila nanti kalau ada yang mengaji dan ditanya, “sudah dapat berapa juz?”. “Alhamdulillah, mengaji hari ini sudah dapat sepuluh liter”. Hehehe.

Begitulah. Saya pikir ini pantas untuk diceritakan boleh jadi luput dari pengamatan kita, atau bisa saja terdapat pesan moral yang tersirat. Wallahualam.


#RamadanStory #Palmerah #Pertalite

 

 

PENULIS :
Foto
Moh. Hamzah Sidik
Suka baca. Jarang nulis. Terobsesi untuk merebut tahta Raja Jawa.