Upaya mendorong keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian terus digencarkan. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan generasi akan pentingnya sektor pertanian. Bahkan, banyak generasi muda yang malu jadi petani. Padahal, bertani adalah cara ini hidup. Berdikari.
Karenanya, melihat permasalahan itu, Gen Youth Progressive mengadakan bertajuk “Young Minds, Smart Farming; Menakar Potensi Pemuda Dalam Ekosistem Pertanian 5.0.” Kegiatan ini dimaksudkan supaya generasi muda memandang penting sektor pertanian. Lebih-lebih di era 5.0, di mana energi mekanik diintegrasikan dengan kecerdasan buatan (AI).
Kegiatan yang terlaksana pada Minggu (5/4/2026) dan di gelar secara daring melalui platform Zoom ini turut menghadirkan berbagai perspektif dari pemangku kepentingan, mulai dari legislatif, pengamat sosial, hingga inisiator gerakan pemuda.
Acara ini menjadi ruang diskusi sekaligus refleksi atas tantangan regenerasi petani di tengah arus modernisasi. Dengan mengusung konsep Pertanian 5.0 yang menekankan integrasi teknologi, keberlanjutan, dan peran manusia sebagai pusat inovasi forum ini menyoroti pentingnya kesiapan pemuda dalam menjawab perubahan zaman.
Anggota DPRD Tuban, Muhammad Ilmi Zada, dalam pernyataannya menegaskan bahwa sektor pertanian tidak lagi bisa dipandang sebagai sektor tradisional yang tertinggal. Ia menilai, justru di era saat ini, pertanian memiliki peluang besar untuk berkembang melalui sentuhan teknologi dan kreativitas anak muda.
“Pemuda harus mulai melihat pertanian sebagai sektor strategis, bukan sekadar pekerjaan konvensional. Dengan pendekatan teknologi dan inovasi, kita bisa menciptakan ekosistem pertanian yang lebih produktif dan berdaya saing,” ujarnya.
Sementara itu, Pengamat Indomassive, Moh. Hamzah Sidik, menyoroti adanya pergeseran cara pandang generasi muda terhadap pertanian. Menurutnya, tantangan utama bukan hanya pada akses, tetapi juga pada persepsi.
“Selama ini pertanian sering dipersepsikan tidak menjanjikan. Padahal, jika dikemas dengan pendekatan digital, branding yang kuat, dan ekosistem yang kolaboratif, sektor ini justru bisa menjadi ruang aktualisasi baru bagi anak muda,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa gerakan kolektif berbasis komunitas menjadi kunci dalam membangun kesadaran baru tersebut. Tanpa adanya ruang-ruang diskusi dan aksi nyata, potensi pemuda hanya akan berhenti sebagai wacana.
Di sisi lain, Founder Gen Youth Progressive, M. Rifka Arif Syahrizal, menegaskan bahwa kegiatan ini lahir dari keresahan sekaligus harapan. Ia melihat adanya jarak antara potensi besar pemuda dengan realitas sektor pertanian di lapangan.
“Kami ingin menjembatani gap itu. Pertanian 5.0 bukan hanya soal teknologi, tapi tentang bagaimana manusia dalam hal ini pemuda menjadi aktor utama perubahan. Kami percaya, ketika pemuda diberikan ruang, akses, dan kepercayaan, mereka mampu menciptakan lompatan besar di sektor ini,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun ekosistem yang inklusif dan berkelanjutan, di mana pemuda tidak hanya menjadi pelaku, tetapi juga penggerak.
Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir kesadaran kolektif bahwa masa depan pertanian berada di tangan generasi muda. Bukan lagi soal siapa yang bertahan di sektor ini, tetapi siapa yang mampu mentransformasinya.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, Young Minds, Smart Farming menjadi langkah awal dalam merumuskan arah baru pertanian Indonesia yang tidak hanya produktif, tetapi juga relevan dengan perkembangan zaman.
Kontributor: Arif Syahrizal, pendiri Gen Youth Progressive