Gemati - Suara Rakjat
Siraman Rohani

Ngaji Kilatan Kitab Kuning di Bulan Ramadhan: Menyemai Etika Beragama melalui Kitab Al-Adab fi Ad-Din Karya Imam al-Ghazali

Rahmad Setyawan | 09 Mar 2026


Cover

Kiwari, seluruh aspek kehidupan kita kehilangan marwah etika. Sebagai pedoman hidup, etika memainkan hal penting dalam mengontrol perilaku manusia dalam melaksanakan sistem hidup, termasuk juga etika dalam beragama. Agama sebagai sumber etika kini terkikis oleh perilaku umatnya yang menerobos batas aturan beragama baik secara vertikal dan horizontal. Hal ini membawa kita dalam pembahasan kitab Al-Adab fi Ad-Din karya Imam Al-Ghazali.

Pembahasan kitab karangan Sang Hujattul Islam ini adalah pengalaman saya dalam mengisi kegiatan ngaji kilatan di Pondok Pesantren Al-Fatah Kartosuro, Sukoharjo. Dan, kitab Al-Adab fi Ad-Din karangan filuf dari Iran ini adalah salah menu sajiannya.

Secara umum, kegiatan ngaji kilatan merupakan program tambahan di pesantren yang bersifat opsional atau pilihan bagi para santri. Istilah kilatan merujuk pada metode pembelajaran yang dilakukan secara intensif dengan ritme yang relatif cepat.

Melalui model pengkajian seperti ini, proses pembahasan kitab kuning dilakukan secara padat sehingga kitab kuning yang dipelajari dapat diselesaikan atau dikhatamkan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Biasanya dengan estimasi waktu antara 1 – 20 Ramadhan, kendati ada beberapa pesantren di Indonesia yang memperpendek atau memperpanjang waktunya hingga akhir bulan Ramadhan. Melalui tradisi ini, para santri diharapkan dapat memperkaya wawasan keilmuan sekaligus memperkuat fondasi spiritual dan moral mereka.

Kitab ini berbentuk risalah ringkas yang membahas tentang etika-etika dalam beragama bagi umat Islam. Kitab ini, diawali dengan penjelasan mengenai etika seorang muslim di hadapan Allah Swt. Peletakan tema ini di bagian awal tentu memiliki tujuan yang sangat mendasar, yaitu untuk menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan sepenuhnya bergantung kepada Allah Swt.

Sebagai seorang hamba, manusia diperintahkan untuk senantiasa taat dan tunduk kepada Allah Swt. melalui berbagai bentuk ibadah. Kesadaran akan posisi manusia sebagai hamba ini menjadi pondasi utama dalam membangun etika beragama. Dengan memahami hakikat dirinya, seorang hamba diharapkan mampu menjalani kehidupan dengan penuh kerendahan hati, ketulusan, serta kesungguhan dalam beribadah.

Setelah menjelaskan hubungan vertikal antara manusia dengan Allah Swt. kitab ini kemudian menguraikan berbagai bentuk etika dalam hubungan horizontal, yaitu hubungan antara manusia dengan sesamanya. Dalam kehidupan sosial, Islam mengajarkan berbagai nilai luhur seperti kejujuran, kesopanan, saling menghormati, serta menjaga hak-hak orang lain.

Nilai-nilai ini menjadi landasan penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan berkeadilan. Oleh karena itu, pembahasan dalam kitab ini tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga memberikan pedoman praktis bagi seorang muslim dalam menjalani kehidupan sosialnya.

Pada bagian akhir kitab, Imam Al-Ghazali menyajikan rangkuman etika secara komprehensif dari berbagai pembahasan yang telah dijelaskan sejak awal hingga akhir. Rangkuman ini berfungsi sebagai penegasan kembali bahwa etika dalam beragama harus mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.

Seorang muslim tidak hanya dituntut untuk memperbaiki hubungan dengan Allah Swt. melalui ibadah, tetapi juga harus memperbaiki hubungan dengan sesama manusia melalui perilaku yang baik dan penuh tanggung jawab. Dengan demikian, kehidupan beragama tidak berhenti pada ritual semata, melainkan harus tercermin dalam sikap dan tindakan sehari-hari.

Di era modern ini, ternyata membikin kitab Al-Adab fi Ad-Din semakin relevan. Yang mana, kitab ini memperdalam dan menambah pengetahuan tentang etika dan moral yang kini, terdegradasi. Sehingga, kitab ini bisa menjadi rujukan pustaka untuk seluruh kalangan, utamanya anak-anak muda sekarang yang hampir tidak bisa berbahasa dengan tata krama.

Selain itu, kitab ini juga mengajarkan pentingnya meneladani akhlak Nabi Muhammad Saw., para sahabat, tabiin, serta orang-orang saleh yang menjadi teladan dalam sejarah Islam. Nilai-nilai akhlak yang mereka contohkan bersumber dari syariat Islam yang berlandaskan pada Alquran dan hadis.

Oleh karena itu, ajaran yang terkandung dalam kitab ini tidak hanya memiliki dasar teologis yang kuat saja. Tetapi, juga memiliki legitimasi historis dalam praktik kehidupan umat Islam sejak masa awal Islam.

Juga, kitab ini sangat direkomendasikan sebagai kitab buat ngaji kilatan Ramadhan. Ini menjadi salah satu upaya penting dalam menanamkan kesadaran religius yang sejati, tidak hanya diukur dari intensitas ibadah, tetapi juga dari kualitas akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai etika yang diajarkan dalam kitab ini diharapkan mampu membimbing generasi muda untuk menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab, baik sebagai hamba Allah maupun sebagai anggota masyarakat.

Kehadiran kitab Al-Adab fi Ad-Din dalam tradisi ngaji kilatan di pondok pesantren di bulan Ramadhan memiliki makna yang sangat strategis. Ramadhan merupakan bulan pembinaan spiritual, sehingga pengkajian kitab yang berfokus pada pembentukan etika dan akhlak menjadi sangat relevan.

Melalui pengkajian kitab ini, kita tidak hanya diajak untuk memahami ajaran Islam secara intelektual, tetapi juga untuk menginternalisasikan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan ini, pesantren terus memainkan peran strategis dalam menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam sekaligus menanamkan nilai-nilai etika yang relevan bagi kehidupan modern.

 


PENULIS :
Foto
Rahmad Setyawan
Santri Pondok Pesantren Al-Fatah Kartosuro, Sukoharjo. Dosen sekaligus Mediator di LKBHI UIN Raden Mas Said Surkarta.