Gemati - Suara Rakjat
Perjalanan

Menjinakkan Pohon Wingit: Cerita Tanaman yang Katanya Angker

Egi Raf | 26 Apr 2026


Cover

Kalau orang lain punya hobi mancing, Saya punya hobi bermain tanah dan biji. Halaman rumah saya sempit, bahkan untuk dua pasang kambing pun tak muat. Tapi, saya berhasil menyulapnya jadi taman yang, ya… agak wingit.

Tidak jarang orang menatap saya penasaran, seolah-olah saya sedang membangun sarang dhemit. Padahal, saya cuma menanam pohon. Tetapi, pohon-pohon itu tidak sembarangan: pohon langka, pohon bersejarah, pohon yang kalau bisa bicara, dan mungkin bakal minta sesajen karena jasanya menjaga ingatan manusia.

Berawal dari keluyuran ke makam-makam tua. Yakni, dari Keraton Kartasura sampai Astana Mengadeg, makam Pangeran Sambernyawa penguasa awal Mangkunegaran yang terletak di puncak Bukit Mangadeg, Karanganyar, saya belajar satu hal. Bahwa, jika setiap tanaman punya cerita.

Hal itu nampak dari tekstur kulit batang, aroma getah, buah dan bentuk daun bukan cuma estetika, tapi kode-kode masa lalu. Saya bawa catatan, gambar, dan biji-bijian pulang ke halaman rumah. Seakan, saya membawa pulang potongan sejarah yang dipersilahkan untuk di rawat.

Pohon dan Ingatan

Di makam Pangeran Sambernyawa, juru kunci menyerahkan beberapa biji pala. Pohon pala tumbuh dan berbuah banyak di sana. Biji itu sekarang tumbuh subur seperti ikut menjaga rumah saya, menatap dan menyambut setiap tamu dengan penuh rahasia.

Kemudian, ada pohon kemenyan dari Sumatera. Mendengar kata “kemenyan” ingatan selalu tertuju ke sebuah ritual, menyebar aroma mistis. Pohon kamper juga ada, yang menjadi bahan pembuatan kapur barus alami. Konon, dengan daun kemper itu, peradaban Mesir kuno sudah pakai untuk mengawetkan mumi berabad-abad lalu.

Selanjutnya, ada pohon dewandaru. Pohon itu memiliki ikatan dengan beberapa tempat di Gunung Kawi menebarkan aura sakralnya. Pohon timoho menyimpan energi yang dulu, dipercaya cocok untuk warangka keris. Pohon tlogosari sering dikaitkan dengan penguasa Laut Selatan sebagai sarana persembahan gaib dalam ritual pesugihan.

Meskipun tanaman yang ada di halaman rumah sering dianggap wingit, bagi saya, mereka adalah tanaman langka. Bukan karena tidak ada di tempat lain, melainkan karena di daerah saya hampir tak pernah ditemukan.

Mungkin, di tempat lain pohon serupa tumbuh biasa saja. tapi di halaman rumah yang sempit ini, kehadiran pohon-pohon tadi, menjadi sesuatu yang istimewa. Jadi kalau saya menyebutnya langka, itu adalah standar yang saya buat sendiri. Sebuah standar yang lahir dari kedekatan, dari rasa memiliki, dan dari kesadaran bahwa tidak semua orang punya kesempatan merawatnya sedekat ini.

Untuk mendapatkan pohon tersebut tidaklah mudah. Pohon-pohon itu sering tersembunyi di balik nisan makam atau di tangan para penjaga tradisi, yang hanya memberi kepada mereka yang ia mau.

Terkadang, untuk mengambil satu ranting muda atau buah matang, saya duduk sebentar, menunduk, dan menghadiahkan doa sebagai bentuk permohonan izin, seolah bilang, “Mbah, saya minta sedikit tok, bukan merusak.” Baru setelah itu, ranting atau buah itu diambil, sambil menyelipkan ucapan terima kasih kepada pohon.

Menjaga Identitas

Mungkin, orang yang tahu jenis-jenis pohon di halaman rumah saya dan mengetahui cerita yang melekat di baliknya bakal mengira saya berkawan dengan dhemit. Wajar saja, wong saya menanam pohon-pohon yang tak lazim tumbuh di halaman rumah, yang biasanya hanya ditemui di makam atau punden, dan merawatnya dengan doa serta perhatian yang bagi sebagian orang terlihat aneh.

Tidak cuma itu. Melalui pohon, saya berusaha menjaga identitas sejarah tempat tinggal agar tidak hilang. Nama makam Kendal, Ploso, dan desa Pucangan, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, misalnya, saya yakin diambil dari pohon kendal, ploso, dan pucang—alias pinang sekarang.

Jadi ketika menanam pohon-pohon ini, saya bukan cuma menanam daun dan batang, menanam toponimi, namun juga menanam ingatan lokal yang kadang terlupakan. Pohon-pohon ini menjadi semacam arsip hidup, dengan versi yang bisa di sentuh, di cium, dan di ajak ngobrol. Walaupun ngobrolnya pakai bahasa batin.

Adakalanya, saya duduk memandang pohon-pohon itu, menutup mata, dan membayangkan percakapan yang tak terdengar telinga manusia. Membayangkan manakala pohon kemper yang berbisik tentang mumi Mesir, pohon tlogosari yang asapnya menembus langit sambil menyapa Nyi Roro Kidul, atau daun timoho yang menekuk lembut seolah memberi salam.

Orang yang penasaran kadang datang, mencium aroma kantil dan kenanga, atau menatap pohon sala yang tegap. Mereka tidak sepenuhnya paham sejarah yang saya bawa. Tapi, mereka mungkin merasakan sesuatu yang berbeda, keheningan yang penuh misteri.

Di saat itu, saya sadar, menjinakkan wingit bukan soal menghilangkan takut. Namun, adalah soal bagaimana kita mengubah rasa takut menjadi rasa hormat, dan pengetahuan untuk dikabarkan ke banyak orang.

Menanam Mimpi

Saya punya mimpi lebih besar lagi, kelak pohon-pohon ini tidak lagi terkurung dalam pot di halaman sempit, melainkan berdiri tegak di sebuah lahan luas sebagai ruang belajar terbuka. Di sana, anak-anak bisa berlarian di bawah rindang beringin, menghirup aroma kantil, memainkan menyentuh batang Timoho sambil mendengarkan dongeng sejarah yang tak ada di buku sekolah.

Saya ingin menjelaskan bahwa yang selama ini dianggap “angker” hanyalah sesuatu yang belum kita kenal baik. Sebab pada akhirnya, pohon-pohon wingit ini bukan sekadar tanaman, mereka adalah guru dan arsip hidup yang menjaga identitas kita tetap membumi.

Menjinakkan wingit bukanlah soal mengusir dhemit. Melainkan, merawat memori agar sejarah tak habis ditelan zaman.



PENULIS :
Foto
Egi Raf
Penulis, pustakawan, dan tukang tanam.