Beberapa hari yang lalu, sebelum Ramadan, saya mengunjungi kota Solo buat menyambangi sahabat-sahabat aktivis mahasiswa. Setelahnya, bersama sahabat, saya “menziarahi” pasar buku Gladak dan, membeli dua buah buku lawas. Lalu, melewati Pasar Gede untuk menyaksikan lampion yang bergelantungan di sepanjang jembatan Kalipepe yang berdampingan dengan ornamen-ornamen bernuansa Ramadan.
Dari perjalanan saya di atas, adalah ekspresi dari dua entitas yang berbeda. Yakni, Islam dan etnis Tionghoa. Terlebih, di tahun 2026 ini, datangnya bulan suci Ramadan bersamaan dengan tahun baru Imlek.
Mungkin ini hanya kebetulan, tetapi menjadi sebuah hal menarik yang perlu diulas. Bahwa, bersamaannya Imlek dengan Ramadan adalah konsekuensi atas anugerah yang dimiliki Indonesia yang berwujud perbedaan (diversity).
Perbedaan, di Indonesia menjadi suatu keniscayaan dalam berkehidupan sosial. Kita pasti mempunyai teman yang berasal dari etnis Tionghoa. Yang mana, meskipun mereka adalah minoritas, tetapi kita sebagai umat Islam yang mayoritas jangan bertindak semena-mena dengan mereka. Bahwa, selama mereka menyatakan diri sebagai manusia Indonesia, maka mereka adalah bagian dari Indonesia.
Lilik
Toh, walaupun banyak yang nampak berbeda dari kedua entitas antara Tionghoa dengan Islam, pasti ada titik persamaan linier yang menghubungkan kedua variabel tadi. Kita membaca kisah seorang Muslim-Tionghoa, Lilik Sugianto Lie.
Perempuan asal Kepanjen, Jawa Timur sudah memeluk Islam sedari kecil meskipun ia adalah keturunan Tionghoa meskipun ibu dan bapaknya beragama Budha. Hingga, di usianya yang senja, Lilik mengaku tidak pernah meninggalkan Imlek dalam menghormati leluhurnya.
“Saya juga tidak minta lahir dari suku apa. Tuhan sudah karunai saya dan saya ditakdirkan jadi Muslim. Saya menikmati dan itu indah.” Ungkapnya dengan ikhlas. Namun, Lilik juga sering dicemooh oleh orang lain karena apa yang ia lakukan.
“Sering saya dihujat. Setiap Imlek, saya dikritik. ‘Tidak boleh, lho.’ Saya jawab, ‘Yang gak boleh itu kamu. Saya berdarah China, ya kewajiban saya melestarikan budaya’.” (BBC News Indonesia, 28 Januari 2025)
Dari kisah Lilik di atas, adalah secuil kisah tentang keberagaman dalam beragama. Di mana, agama sebagai yang secara universal, mengajarkan kasih sayang kepada sesama manusia bahkan kepada alam.
Sehingga, nilai universal itu menjadi ugeman dan ageman dalam menjalani kehidupan yang selalu menjumpai perbedaan dalam banyak hal. Lebih-lebih, momen berbarengannya Imlek dan Ramadan mengingatkan kepada kita akan jalan sejarah masuknya Islam ke Nusantara tidak bisa dipisahkan dengan bangsa Tiongkok.
Sorot Balik
Berangkat dari hal tadi, kita ingat waktu masih berseragam biru-putih yakni, ketika pelajaran IPS. Dalam pelajaran itu, kita mempelajari sejarah tentang proses islamisasi di Nusantara. Bahwa, Islam yang kita nikmati sekarang, berasal dari orang-orang Muslim-Cina.
Hal ini, sebagaimana yang diungkap M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (1200 – 2004) terbitan Serambi Ilmu, 2005 bahwa, orang-orang non-pribumi Asia yakni Arab, India, termasuk Cina yang memeluk agama Islam telah menetap di suatu wilayah Indonesia dan menikahi penduduk pribumi.
Setelahnya, mereka mengikuti gaya hidup kebudayaan setempat. Yang pada gilirannya, meleburkan diri dengan pelbagai suku-suku yang ada: Jawa, Melayu, dan yang lainnya.
Lebih dalam, kita membuka buku gubahan Agus Sunyoto yang bertajuk Atlas Walisongo (Pustaka IIMaN dan LESBUMI PBNU, 2020). Bahwa pengaruh Muslim-Tionghoa dalam penyebaran Islam di Nusantara, setidaknya didasarkan kepada bukti-bukti arkeologis.
Hal ini nampak pada gaya bangunan masjid-masjid kuno yang dibangun pada seperempat akhir abad kelima belas, yakni Masjid Agung Demak, Masjid Agung Kasepuhan Cirebon, Masjid Agung Kudus. Di dinding keempat masjid tadi, banyak ditempeli piring porselen dari Dinasti Ming.
Selain itu, tidak ketinggalan adalah peran Laksamana Cheng Ho dalam mensyiarkan Islam di Nusantara. Pada tahun 1405 M., ia singgah di Kerajaan Samudera Pasai buat menemui Sultan Zainal Abidin Bahiansyah dalam rangka membuka jalan hubungan politik dan perdagangan.
Dan, di tahun yang sama, Laksamana Cheng Ho mengunjungi pulau Jawa dan, menemukan komunitas Muslim Tionghoa di Tuban, Gresik, dan Surabaya dengan rincian masing-masing berjumlah seribu orang.
Dari secuil sorot balik di atas, kita merasakan bagaimana besarnya kontribusi masyarakat Tionghoa dalam menyebarkan Islam di Nusantara pada masa silam. Tentunya, masyarakat Islam di Indonesia, perlulah berterimakasih kepada mereka.
Yakni, dengan hidup damai mereka tanpa adanya rasa superioritas meski kita adalah mayoritas. Bahwa kita, harus bersahaja dengan mereka, meski mereka bukan asli orang Indonesia. Karena, etnis Tionghoa adalah unsur pembentuk Indonesia.
Gus Dur
Dari sajian ini, kita ingat Gus Dur. Seorang kiyai, alim-ulama secara sanad dan nasab. Dengan keluasan dan kedalaman pemahaman Islam yang ia miliki, Gus Dur menjadikan Islam sebagai agama pembebas. Karenanya, ia pembela dan pejuang hak-hak kaum yang terdiskriminasi, termasuk etnis Tionghoa.
Dengan kebijaksanaannya waktu menjadi presiden, Gus Dur menjadi angin segar bagi warga Tionghoa. Manakala Gus Dur menjadi presiden, ia mencabut Instruksi Presiden Nomor 14/1967 yang kemudian, ditindaklanjuti dengan mengesahkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (yang hanya berlaku bagi yang merayakan).
Kini, Imlek bebas dirayakan. Barongsai dan wayang Potehi boleh dimainkan di ruang publik. Konfusianisme diakui sebagai salah satu agama resmi di Indonesia. Ini semua berkat kebijaksanaan Gus Dur. Masyarakat Tionghoa pun berterima kasih dan memberikan hormat setinggi-tingginya kepada Gus Dur. Maka, atas perjuangannya Gus Dur di labeli dengan Bapak Pluralisme.
Persinggungan Gus Dur dengan etnis Tionghoa itu, diulas Hairus Salim HS. dalam esainya bertajuk Imlek dan Agenda Antidiskriminasi yang dimuat dalam buku Gus Dur Sang Kosmopolit (EA Book, 2020) mengungkapkan pengalaman pribadinya akan keagungan Gus Dur di mata masyarakat Tionghoa.
Penulis mengungkap, acap kali ketika perayaan Imlek, ia melihat foto Gus Dur diletakkan di tengah-tengah arena perayaan seolah ia ikut hadir di dalamya. Lalu, dalam beberapa kesempatan mengunjungi Klenteng ia melihat foto Gus Dur dan itu tidak hanya sekali.
Lebih lanjut, menurut Hairus Salim, bahwa apa yang dilakukan Gus Dur ini semata-mata tidak hanya memperjuangkan hak dan kebebasan etnis Tionghoa untuk melakukan ekspresi ibadah. Tetapi, ini universalisme Gus Dur dalam membela hak setiap individu maupun kelompok yang penjara haknya.
Ia hanya memperjuangkan kesetaraan dan keadilan. Dan kebetulan, yang ia bela adalah etnis Tionghoa yang sedari Orde Baru mendapatkan perlakuan diskriminatif.
Begitulah. Indonesia ada karena perbedaan, kata Gus Dur. Islam sebagai agama perdamaian memainkan peran penting dalam nguri-nguri konsekuensi atas perbedaan yang ada.
Jejak sejarah, yang menjadi titik pijak, menjadi dua garis singgung antara etnis Tionghoa dengan agama Islam yang menghasilkan ruang arsir perdamaian dan keharmonisan kedua entitas itu dalam hamparan kehidupan bermasyarakat di negara Indonesia. Lalu, kiwari, bagaimana persinggungan antara rezim negara ini dengan etnis Tionghoa (Cina) utamanya soal proyek kereta cepat (Whoosh)? Wallahualam.
#Islam #Tionghoa #Ramadan #Imlek #Solo #GusDur #Pluralisme