Gemati - Suara Rakjat
Esai Kerakjatan

Di Hadapan Algoritma

Umu Hana Amini | 05 May 2026


Cover

Musik pop Indonesia beberapa waktu terakhir, dipenuhi lagu-lagu yang berkaitan dengan mata atau penglihatan. Setelah Afgan dengan Kacamata (2025), muncul Bernadya dengan single terbaru bertajuk Rabun Jauh. Teranyar, hanya selisih beberapa hari, rilis Mungkin di Depan Buram yang dibawakan Idgitaf.

Warganet berkelakar soal judul-judul lagu hari ini, seolah banyak orang menderita masalah penglihatan. Bahkan, Fiersa Besari ikut melontarkan candaan melalui unggahannya di X (Twitter). Ia mengatakan, “Padahal periksa mata udah ditanggung BPJS.”

Kita tertawa saja. Bahkan, teknologi LASIK telah memudahkan manusia hari ini untuk menyelesaikan masalah tersebut. Hingga, tak sedikit orang kemudian menggunakan kacamata sebatas sebagai aksesori untuk bergaya. Atau, untuk mengurangi paparan cahaya gawai yang tergunakan sehari-hari.

Berkacamata

Namun, judul-judul lagu itu tetap mengusik kita, warganet. Pasalnya, masalah penglihatan, terutama rabun jauh, sepakat atau tidak sepakat, memang masalah masyarakat urban. Kacamata, selain memberi kesan intelek, juga menandakan seseorang tumbuh di wilayah perkotaan.

Hal itu pernah dibahas M. Aan Mansyur dalam esainya tahun 2013 yang dimuat di Literasi Koran Tempo Makassar (kini menjadi salah satu esai yang dibukukan di Esai Tanpa Pagar, 2014). Dalam esai berjudul Metafora Miopia Miller itu, dia mengatakan bahwa angka penderita miopi atau rabun jauh kian meningkat dari tahun ke tahun.

Faktor terbesar yang menyebabkan fenomena ini adalah adanya gedung-gedung tinggi di perkotaan. Keberadaan benda-benda “raksasa” itu menghalangi cahaya matahari dan memperburuk kemampuan penglihatan anak-anak.

Buruknya tata kota, ditambah lahan yang sempit dengan jumlah penduduk yang makin membludak, mengurangi akses terhadap cahaya matahari. Ternyata, paparan cahaya itu sehari-hari tidak hanya membantu manusia memproduksi vitamin D, tapi juga bagus untuk kesehatan mata.

Menariknya, Aan Mansyur membahas miopi tidak berhenti sampai di kenyataan itu. Dia menyertakan definisi miopia dalam kamus Merriam-Webster. Di sana, kata itu “tidak lagi sekadar merujuk pada gangguan mata. Miopia juga berarti berpikir sempit.”

Kata dia, pengidap miopi jenis ini amat berbahaya bagi kehidupan sosial di berbagai aspek dan menjadi “penyebab kian tingginya angka penderita miopia baru.” Tak pelak, ketidakmampuan orang hari ini dalam berpikir luas dan jauh telah menyebabkan banyak masalah besar abad ke-21.

Kehilangan

Kita kemudian beranjak pada kegiatan berpikir. Pada masa ketika peradaban sudah kelewat maju, manusia berpikir dengan bantuan kecerdasan artifisial dan digiring algoritma. Kita kehilangan. Kehilangan “pikiran original” sebagai makhluk berakal.

Hidup disetir FYP, pandangan politik manut argumen mayoritas di X (Twitter), dan pergerakan massa baru nyala apinya setelah viral di Instagram. Mungkin itulah yang juga disampaikan Feifei melalui esai ringannya di Substack berjudul “You Share Other People's Thoughts Because You Don't Have Any of Your Own” (23/2/2026).

Manusia hari ini mengonsumsi begitu banyak konten, termasuk konten edukasi yang membuat mereka (atau juga kita) merasa teredukasi dan pintar sekejap. Algoritmalah yang menggerakkan kita untuk terus-terusan berusaha memenuhi kehampaan itu–sebab tak punya gagasan autentik.

Mereka membantu kita mengetahui sesuatu, tapi tidak lantas serta-merta membuat kita berpikir. Pengetahuan semata dijejalkan, lalu seolah itu menjadi buah pikir kita sendiri, padahal hanyalah bentuk utuh dari pikiran orang lain.

Kita tidak sempat untuk salah, tidak sempat untuk setengah-setengah dalam membangun argumen kita sendiri. Pun, kita semakin sukar untuk menerima perbedaan dan argumen yang berlawanan. Di hadapan internet dan jagat maya, kita “dipaksa” untuk mengikuti arus dan suara orang banyak agar “diterima” dalam pergaulannya.

Tapi, dengan fenomena “miopi” ini, kita lekas sadar betapa manusia saat ini memang senyata-nyata memiliki pandangan dan berpikiran sempit. Bagaimana tidak, jarak pandang kita–meniru kalimat Aan Mansyur lagi–hanya sejauh gawai yang ada di genggaman.

Bangunan

Sebuah cerkak (cerita cekak/cerpen berbahasa Jawa) anggitan Afifa Enggar Wulandari berjudul Kaling-alingan Gedhung (Solopos/Espos, 2021), secara cerdas memberi gambaran “derita” masyarakat pinggiran perkotaan yang terkena imbas pembangunan gedung.

Pembangunan itu dikira akan turut memberi kesejahteraan pada masyarakat di sekitar gedung yang tampaknya merupakan bangunan kampus. Namun, mereka hanya mendapati realita bahwa bangunan-bangunan itu semakin menjauhkan mereka dari langit.

Keindahan warna mega ketika matahari terbit dan tenggelam sudah sulit mereka temui. Warga tak mendapat akses pendidikan, masih harus terbatasi pula aksesnya terhadap cahaya matahari, langit, dan segala yang ada di balik awan.

Mimpi setinggi langit dan jatuh di antara bintang-bintang? Sebentar, Bung, belum apa-apa sudah nyangkut di lantai 12!

Mungkin inilah mengapa banyak orang menderita miopi hari ini. Pandangan semakin sempit selain karena terlena pada ketakjuban semu akan konten-konten di gawai, juga sebab andil para penguasa yang telah menempatkan kita berlama-lama di situ. Film dokumenter The Social Dilemma (2020) telah menjelaskan isu ini pada kita.

Mereka tidak ingin kita berpikir. Dihadapan algoritma, mereka tidak ingin kita menjangkau langit, mengetahui rahasia-rahasia, cahaya, yang kelak tersibak di balik awan itu. Pikiran sempit bukan sebab enggan membuka mata, melainkan terbatasnya akses terhadap “pandangan” itu sendiri.

 

Karanganyar, 21 April 2026

PENULIS :
Foto
Umu Hana Amini
Editor sekaligus orang yang kebetulan sempat menulis