Beasiswa. Ia di dambakan. Bahkan dijadikan tujuan kehidupan. Termasuk saya ketika kuliah. Waktu itu, yang saya bidik, adalah beasiswa dari bank sentral di Indonesia. Lumayan, kalau bisa menggapai beasiswa itu bakal mengantongi satu juta per-bulan bisa lepas dari jeratan kebutuhan hidup: biaya kuliah, uang jajan, membayar kos, membeli buku, sampai membelikan martabak manis buat gebetan. Maklum, apabila setiap mahasiswa mesti berjibaku untuk mendapatkan beasiswa.
Tak ayal apabila banyak mahasiswa tertatih-tatih; mengeluarkan puluhan ribu buat mencetak berkas-berkas yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan mendapatkan beasiswa tersebut. Apalagi, yang pantas memperoleh beasiswa itu adalah mahasiswa dengan nilai akademiknya di atas rata-rata dan aktif di pelbagai kegiatan organisasi internal maupun eksternal kampus. Sehingga, saya juga ikut meramaikan persaingan mendapatkan beasiswa ini.
Terlebih, tidak ada persyaratan bahwa, calon penerima beasiswa dari keluarga kurang mampu secara ekonomi. Saya pun juga malu, kalau ikut bersaing buat mendapatkan beasiswa itu. Karena, pasti ada yang lebih membutuhkan intensif itu ketimbang saya.
Tetapi, meskipun sebuah beasiswa mensyaratkan calon penerima manfaat dari keluarga yang kurang mampu, tetapi nyatanya, banyak mahasiswa yang mendapatkan beasiswa itu dari kalangan keluarga mampu. Bahkan dari kalangan menengah ke atas. Ya begitulah. Kita hanya bisa nggrundel di hati saja.
Kita mengenal atau pernah mempunyai teman dengan berwatak demikian. Ini sebuah soal. Bisa jadi mereka itu berdusta karena tidak mengungkapkan yang sebenarnya; kenyataannya. Padahal, kenyataannya, mereka ini mampu atau tidak pantas menerima manfaat beasiswa itu.
Namun, demi beasiswa yang walaupun dikhususkan buat yang kurang mampu, mereka menyatakan ketidakmampuan. Sampai-sampai, mereka meminta legalitas dari negara. Yaitu, dengan meminta surat keterangan tidak mampu di kantor urusan negara di daerah mereka. Jadi, selain kedustaan, ini adalah sebuah etika.
Ini adalah soal etika, kiranya sebuah perbuatan yang kurang pantas. Bahkan tidak pantas. Atau tidak punya malu. Malu karena kehilangan respect dengan diri sendiri. Bahwa, demi mendapatkan kemewahan hidup, mereka mau—mohon maaf—memiskinkan diri dan membohongi diri sendiri yang berarti, berdusta kepada Tuhan.
Lebih jengkelnya lagi, ada penerima beasiswa yang berfoya-foya dengan manfaat beasiswa. Mereka yang mapan keluarganya, mampu ekonominya, tetapi memiskinkan dirinya dan, mendapatkan beasiswa untuk mahasiswa kurang mampu.
Mereka membeli sneakers mahal. Membeli makanan-minuman di kafe terkenal. Outfit dengan merek tersohor, sampai-sampai membeli gawai keluaran terbaru yang harganya bisa buat nyicil motor. Menari di atas kelesuan dan kesedihan mahasiswa sebenarnya lebih pantas mendapat beasiswa yang mungkin, hidupnya serba pas.
Makan sehari dua kali. Memasak nasi sendiri. Beli sayur dan tahu tempe. Kalau tidak habis, akan di makan kemudian. Eman-eman. Makan di Warung Burjo pun jadi barang mewah. Mungkin hanya sebulan tiga kali kalau baru dapat kiriman uang dari orang tua. Agak ngenes, memang.
Dari soal beasiswa ini, selain bermuara kepada etika dan penyimpangan norma agama, juga bermuara kepada apa yang disebut orang Jawa sebagai rasa sumbut. Sumbut ini, selain menjadi cermin atas kemampuan diri dan menekan rasa sangkan paran, juga menekankan rasa bagaimana kita berterima kasih atas pemberian atau perbuatan baik yang pernah kita terima dari seseorang.
Seperti, perkara seorang mahasiswa Indonesia yang mendapatkan beasiswa kuliah di luar dari LPDP (Lembaga Penyelenggara Dana Pendidikan) yang sedang hangat diperbincangkan khalayak. Sebagaimana yang kita lihat, masyarakat memusatkan perhatiannya terhadap seorang perempuan alumni penerima LPDP.
Dia mengatakan, "I know the world seems unfair tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan, kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu," Pernyataan itu dianggap tudingan. Merendahkan, bahkan menghina negara Indonesia. Pasalnya, negara telah membiayai pendidikan S2-nya di Belanda dan biaya itu berasal dari pajak segenap rakyat Indonesia. Sebetulnya, negara berharap supaya ilmu dan pengetahuan yang telah di dapat, bisa dikontribusikan untuk negara Indonesia.
Eh, malahan, dengan fasilitas yang telah diberikan oleh negara, ia malah keblabasan. Soal ini seperti yang dilakukan oleh Kurawa yang dititipi negara Astina. Tetapi, karena terlena dengan kenikmatan dan kemewahan; dikuasai nafsu, mereka malah menyingkirkan Pandawa yang seharusnya menjadi ahli waris atas pemerintahan negara Astina setelah Prabu Pandu wafat. Atau, orang Jawa bilang, “ngemut gula legi emoh ngelepeh”.
Selain itu, perkara flexing pindah kewarganegaraan yang “dijembatani” oleh beasiswa pemerintah tadi, membawa kita kepada kalimat #KaburDuluAja. Tagar itu menjadi representasi dari ketidakpuasan dan kegelisahan rakyat akan kondisi negara, sehingga mereka ingin kabur dari Indonesia dan pindah jadi WNA dengan harapan hidup lebih layak.
Kampanye tadi, adalah sebuah kejengahan kepada aktor politik yang mayoritas antagonis. Pembohong. Pemerintah saat ini inkonsisten dengan kebijakan dan ucapannya yang tidak sesuai dengan kenyataannya: sembilan belas juta lapangan pekerjaan; memburu koruptor sampai kutub selatan; dan masih banyak lagi.
Jadi, soal awarded LPDP S2 luar negeri yang ingin #KaburAjaDulu ini menjalar kemana-mana. Mulai dari rasa balas budi manusia, mencerminkan kondisi Indonesia sekarang yang membuat rakyatnya tidak betah jadi WNI, sampai-sampai, mempertanyakan soal nasionalisme. Waduh, ada apa dengan nasionalisme. Apakah dia salah?
Semenjak sekolah, kita ditekankan buat selalu mempunyai rasa nasionalisme, yakni cinta tanah air dan bangsa. Di sudut lain, menurut Ben Anderson (2010), bahwa nasionalisme bukanlah sesuatu yang diwariskan dari masa lampau, namun lebih kepada proyek bersama (common project) untuk kini dan masa depan.
Begitulah. Beasiswa adalah ihwal komitmen. Bagaimana kebermanfaatannya untuk kepentingan kolektif; ilmu untuk di amalkan dan, kepedulian untuk “menyembuhkan” kondisi negara Indonesia.
#Beasiswa #Mahasiswa #LPDP #KaburAjaDulu #Nasionalisme