Gemati - Suara Rakjat
Esai Kerakjatan

Kurban, Pengorbanan, dan Pengorbanan Pancasila

Fahrul Anam | 03 Jun 2026


Cover

10 Zulhijah sudah berlalu. Iduladha sudah meninggalkan kita semua. Sapi dan kambing yang terparkir di sekitaran surau-surau sudah disembelih. Termasuk semerbak aroma amis dan prengus kini sudah mulai mereda. Namun, daging-daging yang kita peroleh panitia kurban di masjid-masjid lingkungan kita sudah menjadi sate, tengkleng, ataupun masih menginap di freezer sembari menunggu antrian untuk di masak.

Itulah Hari Raya Iduladha. Dengan segenap kesibukan (kekocakan) di baliknya, daging menjadi makanan pokok bagi masyarakat, tidak ketinggalan sate. Sate menjadi makanan wajib dalam selebrasi Iduladha. Dari sate-sate itu, semakin kuatlah kolektivitas antar-anggota keluarga sampai taraf masyarakat.

Di balik hamparan olahan daging kambing dan sapi yang kita nikmati, terselip kisah heroik. Kisah pertarungan dalam diri seorang manusia antara dirinya seorang hamba Tuhan dengan ketaatannya dan sebagai manusia pada lumrahnya yang memiliki rasa kasih-sayang atas apa yang ia menjadi haknya. Ya, benar. Ini adalah kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Semenjak sekolah dasar, kita sudah diperkenalkan kisah diperintahkannya Nabi Ibrahim buat menyembelih Nabi Ismail. Sehingga, terciptalah sebuah seremoni Iduladha. Selain itu, cerita itu juga menginspirasi adanya ibadah haji.

Pengorbanan

Di sekitar kurban ini, membawa kita kepada buku bertajuk Menjadi Manusia Haji gubahan Ali Syariati terbitan Jalasutra. Selain membahas makna dan filosofi ibadah haji, buku yang ditulis inspirator Revolusi Islam Iran 1979 itu juga membahas tentang hikmah dan pelajaran penting dari ibadah kurban di samping pancaran rasa persatuan dan kesatuan lewat kenikmatan slilit daging di rongga gigi.

Menurut Syariati, bahwa ibadah kurban, mengajarkan kita tentang makna pengorbanan. Pengorbanan yang telah dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim. Sebagai seorang nabi, yang menyerukan ajaran tauhid, Nabi Ibrahim melaksanakan tugas amat berat dalam sebuah sistem sosial yang opresif.

Seabad lamanya Nabi Ibrahim menanggung segala siksaan di zaman kalabendu itu. Lalu, ia berhasil menyuntikkan cahaya kesadaran dan menebar benih cinta kemerdekaan ke dalam segala ruas diri manusia-manusia yang telah terbiasa dengan opresivitas sosial terhadap diri mereka.

Bagaimanapun, Nabi Ibrahim tetaplah manusia yang mempunyai watak ke-manusia-an. Meskipun ia tidak mempan dibakar oleh api, Nabi Ibrahim tetap memiliki rasa memiliki keturunan yang berapi-api. Sayangnya, istrinya Sarah yang seorang ningrat itu mandul. Juga, ia makin menjadi tua. Renta dimakan usia.

Nabi Ibrahim tidak berpengharapan. Ia hanya bisa mendamba. Allah Swt. melimpahkan karunia-Nya kepada lelaki tua itu yang telah mengabdikan (mengorbankan) hidupnya; segala onak-deritanya demi menyebarkan risalahNya.

Dengan perantara budak perempuan berkulit hitam yang berasal dari Ethiopia. Ia bernama Hajar. Nabi Ibrahim akhirnya dikaruniai seorang anak laki-laki, Ismail namanya.

Bagi Nabi Ibrahim, Ismail tidak hanya seorang putra pada umumnya. Ismail adalah buah yang di dambakannya seumur hidup dan sebagai imbalan karena ia telah memenuhi hidupnya dengan penuh perjuangan. Juga, sebagai putra tunggal dari seorang lelaki tua yang telah menanggungkan penderitaan yang berkepanjangan, adalah sesuatu yang amat dicintai Nabi Ibrahim.

Ismail tumbuh seperti sebatang pohon yang kekar. Ia mendatangkan kecerahan dan kebahagiaan baru dalam diri Nabi Ibrahim. Ia adalah harapan, kecintaan, dan putra seorang ayah.

Namun, musibah itu datang tanpa hujan dan angin. Wahyu Illahi itu berseru kepada Nabi Ibrahim: “Wahai Ibrahim! Rebahkanlah pisau ke leher putramu dan dengan tanganmu sendiri sembelihlah ia!” Jelas, Nabi Ibrahim mengalami konflik batin yang amat besar galaunya. Mutiara yang ia nanti. Yang ia cari di kedalaman dan keluasan lautan kesabaran dan perjuangan akan dikurbankan. (hlm. 158-161)

Nabi Ibrahim dihadapkan pada dua pilihan yang saling menegaskan. Yakni antara ketaqwaan Allah Swt. atau permata hidup yang dinanti sepanjang hidupnya, Ismail?

Dari nukilan kisah tadi, Ali Syariati menegaskan bahwa setiap dari diri kita memiliki “Ismail”. Yaitu, hal-hal atau sesuatu yang amat kita sayangi dan dimiliki di dunia yang semua itu berasal dari Allah Swt. Termasuk, bangsa Indonesia memiliki “Ismail” yang konon, menjadi way of life. Benar, itu adalah Pancasila.

Pancasila yang kita sepakati sebagai dasar dan ideologi negara ini, lahir dari perjuangan fisik, pikiran, dan batin para perumus negara Indonesia. Amat banyak pengorbanan di balik lahirnya Pancasila dengan lima pasal pedoman kehidupan bangsa Indonesia yang diperingati hari lahirnya setiap 1 Juni.

Pancasila Dikorbankan

Nilai-nilai ketuhanan, persatuan, dan keadilan dalam Pancasila itu terpendar dalam ibadah kurban yang telah kita laksanakan. Namun, zaman yang semakin kesini, Pancasila mengorbankan dirinya dan bahkan dikorbankan oleh para penguasa di negeri ini.

Nilai-nilai Pancasila dikorbankan dengan watak-watak kolonialisme. Kita bisa melihat dalam film Pesta Babi. Film itu menunjukkan, bahwa para penguasa di negeri ini telah kehilangan watak-nilai Pancasila. Keserakahan, mengedepankan kapitalisme, menghamba kepada bangsa asing telah meracuni pemerintah hingga tega membumihanguskan tanah adat Papua yang menjadi naungan hidup masyarakatnya.

Kiwari, Pancasila tak lebih dari sekedar bingkai burung Garuda yang terpampang di dinding-dinding kelas di sekolah. Kelima silanya menjadi teks hafalan belaka. Utopis. Bermimpi merealisasikannya juga tidak mampu.

Para penguasa dengan serius berjanji di bawah kitab suci namun bercanda merealisasi. Tuhan pun tidak ditakuti. Keadilan sosial hanya menjadi bualan yang banal. Tidak pernah terwujud. Dewan perwakilan hanya mewakili ego dan perut mereka sendiri.

Pancasila telah dikorbankan. Rakyat mengorbankan nasib dan kondisinya. Lalu, akankah kita dapat “berkurban” untuk Pancasila?


PENULIS :
Foto
Fahrul Anam
Pembeli buku-buku bekas. Penikmat kopi Arabika V60.