Dalam keyakinan umat Islam, agama Islam tidak hadir sebagai sesuatu yang benar-benar baru. Islam diposisikan sebagai kelanjutan sekaligus penyempurna dari ajaran tauhid yang dibawa oleh para nabi terdahulu. Penegasan ini tertulis jelas dalam Al-Quran Surah Al-A’raf ayat 157
اَلَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوْفِوَيَنْهٰىهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰۤىِٕثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَالْاَغْلٰلَ الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهِمْۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِهٖ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ مَعَهٗٓۙ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَࣖ ١٥٧
Yaitu,orang-orang yang mengikuti Rasul (Muhammad), Nabi yang ummi (tidak pandai baca tulis) yang (namanya) mereka temukan tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka. Dia menyuruh mereka pada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, menghalalkan segala yang baik bagi mereka, mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban serta belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan bersamanya (Al-Quran), mereka itulah orang-orang beruntung.
Jika kita membedah bagian pendahuluan ini melalui kacamata para penafsir Al-Quran terkemuka, maksud dari ayat tersebut menjadi sangat jelas dan spesifik. Imam Ibnu Katsir dalam Al-Azhim menjelaskan bahwa esensi dari ayat ini adalah penegasan bahwa karakteristik, sifat, hingga tanda kerasulan Nabi Muhammad Saw. sebenarnya telah digambarkan dengan sangat rinci di dalam lembaran-lembaran kitab suci milik
Ahli Kitab zaman dahulu, Ibnu Katsir menekankan bahwa saking jelasnya sifat-sifat tersebut termasuk gelar Al-Nabiyyil Ummiyyi atau nabi yang tidak membaca dan menulis generasi awal ahli kitab mampu mengenali kehadiran Rasulullah dengan sangat mudah, bahkan diibaratkan seperti mereka mengenali anak kandung mereka sendiri.
Sejalan dengan hal itu, Imam Al-Tabari dalam kitab Jami' al-Bayan mempertegas bahwa penyebutan Taurat dan Injil dalam ayat ini merujuk pada teks wahyu asli yang diturunkan kepada Nabi Musa dan Nabi Isa As.
Al-Tabari menguraikan bahwa misi utama Nabi Muhammad yang termaktub dalam kitab terdahulu mencakup mengajak pada kebaikan (amar makruf), mencegah keburukan (nahi mungkar), serta melepaskan ishr yaitu beban-beban aturan syariat masa lalu yang dirasa sangat berat bagi umat terdahulu.
Melalui tafsir para ulama klasik ini, kita mendapatkan landasan yang kuat di bagian awal bahwa kabar kedatangan sang nabi penutup merupakan bagian integral dari sejarah wahyu sebelum Al-Quran diturunkan.
Meskipun demikian, sebelum melangkah lebih jauh ke dalam perdebatan teks, kita perlu menyamakan pemahaman terlebih dahulu. Seperti yang kita ketahui bersama, dalam pandangan Islam, sebelum adanya Al-Quran diturunkan, Allah telah menurunkan kitab-kitab suci sebelumnya kepada para nabi terdahulu.
Namun, dalam ruang lingkup kajian teologis lintas agama masa kini, umat Muslim tidak lagi mendapati teks-teks asli tersebut dalam bentuknya yang utuh. Oleh karena itu, secara spesifik, pengkajian dalam esai ini selanjutnya akan diarahkan untuk meneliti teks yang terdapat di dalam Alkitab, atau yang biasa disebut dengan Bible.
Dalam sudut pandang teologi Islam, Alkitab modern yang beredar saat ini baik bagian Perjanjian Lama (Taurat) maupun yang dianggap sebagai bagian dari Perjanjian Baru (Injil) diposisikan sebagai teks yang diyakini masih menyimpan "sisa-sisa" isyarat dari tradisi kitab suci yang asli. Melalui lembaran Alkitab inilah para cendekiawan Muslim melacak jejak-jejak nubuat yang masih bertahan.
Sifat-Sifat Kenabian dalam Tafsir Surah Al-A’raf Ayat 157
Jika kita membuka penjelasan para ahli tafsir klasik seperti Ibnu Katsir atau Al-Tabari, Surah Al-A’raf ayat 157 ini menegaskan bahwa para Ahli Kitab zaman dahulu sebenarnya bisa mengenali Nabi Muhammad dengan sangat mudah, bahkan seperti mengenali anak kandung mereka sendiri. Hal ini karena sifat dan ciri-ciri beliau sudah digambarkan di dalam kitab mereka.
Salah satu ciri utama yang disebutkan adalah gelar "Nabi yang ummi ", yaitu nabi yang tidak bisa membaca dan menulis. Di sinilah letak mukjizatnya; meskipun tidak pernah belajar membaca dan menulis, beliau mampu menyampaikan Al-Qur’an yang panduan hukum dan bahasanya sangat luar biasa indah.
Indikasi Nubuat dalam Teks Alkitab Saat Ini
Dalam diskusi lintas agama, para cendekiawan Muslim sering melihat adanya "sisa-sisa" isyarat tentang Nabi Muhammad di dalam Alkitab (Bible) yang beredar sekarang. Salah satu contoh yang paling terkenal adalah kitab Yesaya 29:12, yang berbunyi, “Dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan: ‘Baiklah baca ini’, maka ia akan menjawab: ‘Aku tidak dapat membaca.’"
Hal inilah yang menceritakan tentang sebuah kitab yang diberikan kepada seseorang yang tidak bisa membaca, lalu orang itu menjawab: "Aku tidak dapat membaca". Bagi umat Islam, kisah ini terasa sangat mirip dengan peristiwa di Gua Hira, saat Malaikat Jibril menyuruh Nabi Muhammad membaca, dan beliau menjawab "Aku tidak bisa membaca" (Ma ana bi qari').
Selain itu, ada juga ayat di kitab perjanjian lama Ulangan 18:18 “seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya”.
Dalam ayat tadi, yang menjanjikan datangnya seorang nabi yang serupa dengan Musa, serta di dalam perjanjian baru Yohanes 14:16 “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya”. Ini senada janji Yesus tentang datangnya sosok Parakletos atau Roh Penolong.
Tentu saja, umat Kristen memiliki tafsir berbeda; mereka mengartikan ayat Yesaya sebagai teguran untuk bangsa Israel yang tidak mau paham agama, dan mengartikan Parakletos sebagai Roh Kudus, bukan sebagai manusia atau seorang nabi baru.
Pelacakan Nama melalui Kitab Kidung Agung 5:16
Selain ayat-ayat di atas, pencarian jejak nama Nabi Muhammad juga sering mengarah pada kitab Kidung Agung 5:16. Jika kita membaca terjemahan bahasa Indonesia saat ini, ayat tersebut berbunyi: “Kata-katanya manis semata-mata, segala sesuatu padanya menarik...”
Namun, jika kita menggunakan alat bantu seperti Alkitab Sabda untuk melihat bahasa asli Ibraninya, kata "padanya menarik" ternyata menggunakan kata asli "Machmad" atau Makhmaddim.
Para ahli bahasa mencatat bahwa secara asal-usul kata (etimologis), nama Muhammad*dalam bahasa Arab dan kata Machmad dalam bahasa Ibrani berasal dari akar kata Semit yang sama, yang artinya "Yang Terpuji" atau "Sangat Menarik".
Bagi banyak peneliti Muslim, kemiripan akar kata yang sangat dekat ini dianggap sebagai salah satu bukti kuat. Bahwa, karakteristik nama beliau memang pernah terekam dalam tradisi kitab suci terdahulu sebelum teksnya mengalami banyak perubahan bahasa.
Namun, di sisi lain, di antara semua pencarian ini, kita juga harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam metode "cocokologi" atau sekadar mencocok-cocokkan bunyi fonetis yang dipaksakan.
Salah satu contoh kekeliruan yang sering terjadi adalah saat membahas kitab perjanjian baru Yohanes 16:13 tentang ramalan kedatangan sosok pembawa wahyu. Ada klaim yang mengatakan bahwa frasa "Roh Kebenaran" jika diterjemahkan ke bahasa Ibrani bunyinya akan mirip dengan nama Ahmad seperti "roha Ahmed".
Mari kita lihat teks asli Yohanes 16:13 dalam versi Alkitab bahasa Ibrani yang sebenarnya:
כִּי יָבֹא הוּא רוּחַ הָאֱמֶת וְהוּא יַנְחֶה אֶתְכֶם אֶל כָּל הָאֱמֶת (Ki yavo hu Ruach Ha-Emet, ve-hu yancheh etchem el kol ha-Emet). Artinya: "Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran."
Jika dibedah secara ilmiah, klaim pencocokan bunyi Ahmad pada ayat ini keliru karena tiga alasan sederhana:
Asal Bahasa Kitab: Kitab Injil Yohanes aslinya ditulis dalam bahasa Yunani Kuno, bukan bahasa Ibrani. Jadi, menerjemahkan teks Yunani ke bahasa Ibrani hanya demi mencari-cari kemiripan bunyi dengan bahasa Arab (Ahmad) adalah cara yang tidak pas secara ilmu sejarah.
Beda Arti Kata: Kata yang dipakai di ayat tersebut adalah "Ha-Emet" (הָאֱמֶת). Dalam bahasa Ibrani, Ha-Emet artinya adalah "Kebenaran" (kata benda umum). Sedangkan nama Ahmad (אחמד) artinya "Yang Terpuji" (nama diri). Bahkan, kalau kita melihat Al-Quran resmi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani (Surah As-Saff ayat 6), nama Nabi Ahmad tetap ditulis Ahmad, tidak diganti menjadi Ha-Emet. Ini membuktikan kedua kata ini memang berbeda jauh.
Artinya Bisa Tabrakan: Jika kita memaksakan kata Ha-Emet (Kebenaran) diartikan sebagai nama "Ahmad", maka kita akan bingung saat membaca Yohanes 14:6, di mana Yesus berkata: "Akulah jalan, dan kebenaran (Ha-Emet), dan hidup.Kalau dipaksa memakai cocokologi bunyi tadi, ayat itu malah akan berarti Yesus mengaku sebagai Ahmad. Jelas ini keliru. Jadi, kata Ha-Emet di situ murni berarti kata "kebenaran" biasa, bukan nama orang.
Injil Barnabas dan Sisi Sejarahnya
Jika kita mencari kitab yang menyebut nama "Muhammad" secara blak-blakan dan tertulis jelas, jawabannya ada di dalam Injil Barnabas. Di dalam kitab ini, tepatnya pada Pasal 97 dan Pasal 163, Yesus digambarkan secara terang-terangan menyebut nama "Muhammad" sebagai rasul terakhir yang akan datang menyempurnakan ajaran para nabi. Bagi umat Islam, isi Injil Barnabas ini sekilas terasa sangat cocok dengan apa yang digambarkan oleh Surah Al-A'raf ayat 157.
Meski begitu, jika dilihat dari sudut pandang sejarah modern, para ahli dan teolog Kristen menolak Injil Barnabas. Kitab ini dianggap baru muncul pada abad pertengahan (sekitar abad ke-16) dan ditulis oleh orang lain yang menggunakan nama Barnabas agar terkesan meyakinkan (disebut karya pseudepigrafa).
Namun, bagi sebagian pemikir Muslim, Injil Barnabas tetap menarik karena dianggap sebagai bukti bahwa di luar kitab-kitab resmi gereja, pernah ada kelompok-kelompok terdahulu yang memegang ajaran tauhid dan menyimpan ingatan tentang bakal datangnya nabi penutup dunia.
Setelah apa yang dihamparkan, berdasarkan kajian teologis dan historis, kabar tentang Nabi Muhammad Saw. dipandang tersirat dalam Bible saat ini melalui beberapa ayat dan penafsiran tertentu, namun tidak terdapat secara eksplisit penyebutan nama "Muhammad" atau "Ahmad"
Dalam perspektif Islam, hal ini dipahami sebagai konsekuensi dari tahrif, sehingga Bible modern diyakini tidak lagi identik dengan Taurat dan Injil asli yang diturunkan Allah kepada para nabi. Oleh karena itu, umat Islam tetap berpegang pada Al-Qur'an, khususnya Surah Al-A'raf ayat 157, sebagai landasan akidah bahwa kabar tentang Nabi Muhammad Saw. telah terdapat dalam kitab-kitab terdahulu.
Sebagai seorang Muslim yang moderat, sikap yang tepat adalah menyikapi perbedaan ini dengan bijaksana, tanpa memaksakan keyakinan kepada pihak lain maupun merendahkan keyakinan mereka.
Dengan demikian, umat Islam tetap teguh pada keyakinannya berdasarkan Al-Quran, sekaligus menghormati bahwa umat Kristen dan kalangan akademik memiliki sudut pandang serta metode penafsiran yang berbeda. Wallahualam.