Gemati - Suara Rakjat
Perjalanan

Ketika Sebuah Kisah Berakhir: Proses Menerima dan Menyembuhkan Diri

Nazla Audilla, S.Psi | 30 Jun 2026


Cover

Setiap orang pasti pernah merasakan jatuh cinta. Saat seseorang mencintai, ia biasanya mengalami emosi positif, seperti rasa empati, kasih sayang atau belas kasih, perhatian, dan kesediaan untuk berkorban bagi orang yang dicintainya.

Cinta sendiri memiliki arti yang sulit didefinisikan karena berhubungan dengan emosi bukan logika. Oleh karena itu, setiap orang dapat memberikan definisi cinta yang berbeda sesuai dengan pengalaman dan perasaan mereka masing-masing.

Namun, di balik keindahan cinta ada sisi lain yang tidak terpisahkan dari pengalaman manusia, yaitu kehilangan. Ketika sebuah hubungan tidak berjalan sesuai harapan atau harus berakhir, putus cinta menjadi pengalaman yang menimbulkan tekanan dan memengaruhi kondisi psikologis seseorang.

Peristiwa putus cinta, sebagaimana yang saya alami, tidak hanya membuat seseorang merasa kehilangan pasangan. Tetapi, lebih dari itu kandas dapat memicu perubahan emosi, seperti kesedihan, stres, munculnya pikiran yang terus-menerus tentang hubungan yang telah usai, bahkan gejala depresi pada beberapa individu (Verhallen et al., 2022).

Berakhirnya hubungan romantis seringkali menjadi pengalaman yang penuh tekanan bagi orang yang mengalaminya. Tekanan setelah putus cinta (break up distress) muncul ketika seseorang kesulitan menghadapi kehilangan hubungan dan menyesuaikan diri dengan kehidupan setelah perpisahan.

Kondisi ini bisa memicu berbagai reaksi psikologis, seperti kesedihan mendalam, gangguan emosi, gejala depresi, dan kecemasan. Menurut, Gehl et al. (2024) menjelaskan bahwa putus cinta menjadi sebuah pengalaman yang dapat meningkatkan tekanan psikologis, terutama jika seseorang sulit menerima berakhirnya hubungan dan sulit mengelola emosi atas kehilangan tersebut.

Depresi

Depresi merupakan kondisi psikologis yang muncul sebagai respons terhadap tekanan, ditandai oleh kesedihan yang mendalam, patah hati, dan perasaan kehilangan harapan. Ini bukan sekadar kesedihan sementara, depresi dapat memengaruhi pikiran, emosi, dan perilaku seseorang. Gejalanya meliputi perasaan tidak berdaya, hilangnya semangat, menurunnya motivasi, hingga terganggunya aktivitas sehari-hari (Yuliza, 2015).

Salah satu jenis depresi yang berkaitan dengan pengalaman patah hati adalah normal grief reaction atau exogenous depression (depresi reaktif). Depresi ini timbul sebagai respons terhadap faktor eksternal, terutama akibat pengalaman kehilangan, baik kehilangan orang maupun hal yang dianggap penting.

Dalam kasus putus cinta, berakhirnya hubungan romantis dapat menjadi pengalaman emosional. Ini adalah hal yang sangat berat dan menjadi salah satu faktor yang mendasari munculnya gejala depresi.

Depresi akibat putus cinta merupakan kondisi yang nyata dan dapat dialami seseorang ketika kehilangan hubungan yang memiliki arti dalam hidupnya. Dalam pengalaman yang menjadi latar tulisan ini, berakhirnya sebuah hubungan membawa dampak emosional yang cukup berat hingga membutuhkan bantuan profesional dari psikiater.

Kondisi tersebut bukanlah sebuah aib, melainkan bagian dari proses psikologis seseorang menghadapi kehilangan. Oleh karena itu, penting untuk memahami cara penyembuhan diri pasca putus cinta agar seseorang mampu menghadapi kehilangan tanpa terus larut dalam kesedihan.

Self-Compassion

Self-compassion, bahasa kerennya di sebut welas asih terhadap diri sendiri merupakan sebuah konsep yang mana seseorang memiliki sikap menyayangi diri. Memahami bahwa kesulitan adalah bagian dari pengalaman manusia, dan mampu melihat masalah dengan lebih seimbang.

Self-compassion dapat membantu seseorang melakukan penyesuaian psikologis setelah mengalami putus cinta. Orang yang memiliki self-compassion lebih tinggi ia lebih mampu melihat masa depan hubungan.

Secara positif setelah putus cinta, lebih termotivasi memperbaiki diri untuk hubungan berikutnya, dan lebih mampu melakukan penyesuaian diri setelah putus cinta meskipun mereka merasa bertanggung jawab atas berakhirnya hubungan.

Maka seseorang yang memiliki kemampuan self-compassion ia akan memperlakukan diri sendiri dengan lebih baik ketika mengalami kegagalan atau kesalahan. Bukan malah menyalahkan diri terus menerus (Zhang & Chen, 2017).

Selain itu, self-compassion dapat membantu menurunkan perasaan kesepian (loneliness) pada seseorang yang mengalami putus cinta. Perasaan kesepian ditandai dengan adanya perasaan sedih, kehilangan motivasi, merasa sendiri, dan menurunnya harga diri. Seseorang yang memiliki self-compassion yang tinggi dapat membantu meringankan rasa kesepian yang dirasakannya setelah mengalami putus cinta.

Oleh karena itu, self-compassion dapat membantu individu menerima pengalaman buruk seperti kegagalan hubungan, tidak menghakimi diri secara berlebihan. Mampu menghadapi emosi negatif dengan lebih sehat (Fajariyah & Evanytha, 2025).

Dengan mengenalkan konsep self-compassion, penulis berharap siapa pun yang sedang mengalami putus cinta tidak lagi terus-menerus menyalahkan diri. Anggaplah kegagalan dalam hubungan sebagai pelajaran; belajarlah menerima emosi yang muncul. Sayangi diri sendiri dan sadari bahwa Anda sangat berharga.

Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence)

Dalam konteks pasca putus cinta (breakup), kecerdasan emosional (emotional intelligence) berperan membantu seseorang menghadapi perasaan kehilangan, mengatur emosi, memahami pengalaman yang terjadi. Serta, dapat membangun kemampuan untuk menerima dan memaafkan.

Seseorang yang memiliki kecerdasan emosional yang baik cenderung memahami dan mengelola emosinya sehingga mampu menghadapi masalah secara lebih adaptif. Dengan demikian, seseorang mampu mengontrol dan menjalani proses pemulihan yang lebih baik (Putri et al., 2024).

Kemampuan mengelola emosi tersebut menjadi aspek penting dalam proses seseorang untuk bangkit setelah mengalami putus cinta. Ketika seseorang dapat menerima perasaan yang muncul dan memahami perpisahan secara lebih positif, ia akan lebih mampu beradaptasi dengan perubahan dan melanjutkan hidupnya setelah hubungan berakhir (Armadani et al., n.d.).

Maka, ketika sebuah kisah berakhir, yang tersisa bukan hanya tentang kehilangan, tetapi kesempatan untuk menerima dan memahami diri. Proses penyembuhan membutuhkan waktu, namun dengan kemampuan mengelola emosi dan memperlakukan diri dengan penuh kasih, seseorang dapat bangkit dari pengalaman tersebut.

Pada akhirnya, sebuah kisah yang selesai bukan berarti akhir dari perjalanan. Melainkan, merupakan bagian dari proses untuk tumbuh dan menjadi pribadi yang lebih kuat. Semoga pengalaman yang saya lukiskan ini dapat memberi pijar kebangkitan dari keterpurukan diri setelah putus cinta, sehingga kita bisa menerima dan bisa sembuh. Wallahualam.

PENULIS :
Foto
Nazla Audilla, S.Psi
Mahasiswa Magister Psikologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tertarik dunia psikologi dan pendidikan. Kalau punya masalah hidup boleh cerita, insyaAllah bisa bantu selesaikan menggunakan teknik perceptual position, reframing, dll. Ig: @nazlaaudilla