Gemati - Suara Rakjat
Esai Kerakjatan

Kebangkitan Nasional dalam Keterpurukan

Fahrul Anam | 24 May 2026


Cover

Seperti yang kita ingat pra-berdirinya Budi Utomo (Boedi Oetomo), ada seorang priyayi pribumi, dokter lulusan STOVIA (School tot Opleiding van Inlandse Arsten), sekaligus redaktur Majalah Retnodhoemilah.yang berkelana untuk mengedarkan proposal beasiswa (studiefond) untuk pelajar-pelajar pribumi.

Ia adalah dr. Wahidin Sudirohusodo. Ia yang mengincar para bangsawan kaya untuk memberikan suntikkan dana untuk masyarakat pribumi yang ingin atau sedang menempuh pendidikan.

Meskipun kaum bangsawan menolak program studiefond karena mereka takut kalau penduduk pribumi jadi pintar, dr. Wahidin berlabuh ke STOVIA (School tot Opleiding van Inlands Arsten). Ia menganggap, bahwa para siswa sekolah dokter Belanda itu dianggap memiliki pemikiran modern dan mempunyai nasionalisme.

Melalui pertemuan-pertemuan non-formal di lingkungan kampus STOVIA, dr. Wahidin menyuntikkan pemikiran kepada R. Soetomo dan M. Soeradji akan sebuah inisiasi membentuk gerakan dengan cita-cita menasionalisasikan masyarakat bumiputera. Di satu pihak, dr. Wahidin ingin mewujudkan cita-cita itu dengan mencerdaskan kehidupan bangsa (pendidikan). Namun, di pihak lain, R. Soetomo berniat membentuk sebuah organisasi sebagai wadah mewujudkan cita-cita nasionalisme di Hindia.

Rapat-rapat non-formal itu terus berlangsung. Hingga, pada 20 Mei 1908, dalam sebuah rapat ditetapkan berdirinya sebuah organisasi Boedi Oetomo yang mempunyai arti perbuatan baik dan luhur. Usulan nama ini dikemukakan oleh M. Soeradji yang mengaitkan kalimat: “Punika satunggaling padamelan sae sarta nelakaken budi utami”.

Ungkapan di atas yang bisa kita jumpai di buku berjudul Perhimpunan Indonesia Sampai dengan Lahirnya Sumpah Pemuda (PT. Rineka Cipta, 1989) karangan Drs. Sudiyo itu, menjadi konsensus awal dari para kaum pelajar pribumi yang bersekolah di STOVIA untuk membunyikan lonceng kebangkitan bangsa.

Ihwal ini, senada dengan yang diungkap oleh Yudi Latif dalam buku Pendidikan yang Berkebudayaan (Gramedia Pustaka, 2021). Ia menyebut, bahwa lahirnya Budi Utomo sebagai lonceng kebangkitan nasional itu harus kita lihat sebagai pars pro-toto yang menunjuk salah satu gambaran dari seluruh kemunculan organisasi pergerakan nasional pada awal abad kedua puluh.

Dari embrio kebangkitan nasional itulah, lahir aktor-aktor penting perumus bangsa ini. Dalam sajian ini, kita menyebut Suwardi Suryaningrat atau kita kenal dengan Ki Hajar Dewantara.

Dalam buku berjudul Ki Hajar Dewantara karangan Darsiti Soeratman yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1989) mencatat, bahwa Ki Hajar Dewantara pernah menjadi anggota Budi Utomo pada 1908. Ia turut aktif dalam proses penyelenggaraan kongres Budi Utomo di tahun yang sama.

Namun, karena alasan politis, Ki Hajar Dewantara keluar dari Budi Utomo. Meski sempat bergabung dengan Sarekat Islam dan pernah menjadi ketua Sarekat Islam Cabang Bandung, Ki Hajar Dewantara berkawan dengan Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo dan mendirikan Indische Partij (IP) pada 1912.

Melalui IP, Ki Hajar Dewantara tambah garang dan berani kepada pemerintah kolonial. Hal itu dilakukan lewat media sosial pada zamannya, yakni melalui publikasi tulisan. Kita tahu, watak perjuangan masyarakat bumiputera untuk menentang kolonialisme di awal abad kedua puluh, adalah melalui tulisan-tulisan bernada kritik yang dimuat di surat kabar atau zine.

Tulisan Ki Hajar Dewantara berjudul Seandainya Aku Seorang Belanda (Als Ik Eens Nederlander Was) yang dimuat di Harian De Express milik Douwes Dekker yang isinya mengritik rencana perayaan seratus tahun kemerdekaan Belanda di Indonesia yang menarik sumbangan (uang) dari kaum bumiputra itu, bikin geram pemerintah kolonial. Hingga, Harian De Express ditutup. Dan, Tiga Serangkai itu dibuang ke Belanda.

Kini

Apa yang terjadi lebih seabad lalu, di mana kita belum mempunyai kedaulatan negara dan kolonialisme masih mengikat, dan kiwari rasanya masih kita rasakan perasaan para intelektual saat memperjuangkan kebebasan dan kemakmuran masyarakat.

Mereka di asingkan. Diancam. Bahkan ada yang dibunuh karena "kebangkitan" yang mereka suarakan dan aksikan. Kini, rasanya watak kolonialisme itu masih diadopsi oleh pemerintah Prabowo-Gibran.

Perkara Andrie Yunus, pemboikotan menonton dan diskusi bersama film Pesta Babi, "jagungisasi" oleh militer, semakin memperkuat penjajahan itu.

Juga, semakin kesini, seiring naiknya kurs rupiah dan makin masifnya pembangunan Koperasi Merah Putih, bukankah kita merasa semakin terpuruk? Pada gilirannya, Hari Kebangkitan Nasional, yang harusnya bermakna semangat kebangkitan dari keterpurukan penjajahan justru menjadi hiasan dalam untaian kata-kata utopis yang mustahil bakal terwujud.

Sekalipun bangun, para pejabat kita malah nglindur. Setengah sadar. Bahkan tidak sadar. Hal ini bisa kita dengar dari pidato-pidato dan pernyataan-pernyataan pejabat yang dulu kita pilih. Yang dibicarakan ngelantur. Ngalor-ngidul. Dan, itulah konsumsi kita sekarang. Omon-omon.

Namun, kalau ada rakyat yang menyeuarakan kebangkitan. Kritik yang menyuarakan kebenaran, malah nasibnya sama seperti Ki Hajar Dewantara, yakni dibungkam dan dibuang. Inilah yang terjadi kepada siswa SMA yang berani karena kebenarannya di acara lomba cerdas cermat beberapa waktu lalu.

Josepha Alexandra, siswi SMA N 1 Pontianak yang melayangkan kritik atas ketidakadilan yang ia peroleh dari dewan juri dalam Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR-RI beberapa waktu lalu, malah dikucilkan. “Tolong artikulasinya yang jelas, ya!” Sontak, banjir kritikan menerjang para juri yang merupakan orang-orang MPR. Kacau! Lembaga sekaliber MPR pun perlu dipertanyakan kredibilitas dan intelektualitasnya.

Memang, beginilah nasib rakyat Indonesia. Pemerintah sekarang telah lupa marwah Hari Kebangkitan Nasional yang menjadi simbol perjuangan dalam menegakkan kedaulatan bangsa ini. Apakah memang masyarakat sekarang sengaja di nina-bobokan supaya tidak bangkit?

Namun, yang jelas kebangkitan itu ada setelah kita bangkit dari tempat tidur. Karena, revolusi tidak akan terjadi kalau tidak ada aksi, kritikalitas, dan dedikasi yang dilakukan secara kolektif. Seperti kata Oasis dalam tembang Don't Look Back in Anger, “So, i start revolution from my bed”.

PENULIS :
Foto
Fahrul Anam
Pembeli buku-buku bekas. Penikmat kopi Arabika V60.