Gemati - Suara Rakjat
Esai Kerakjatan

Ancaman Sampah Plastik terhadap Masa Depan Bumi

Zidane Surya Pratama | 17 May 2026


Cover

Plastik telah menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Karena sifatnya yang ringan, kuat, murah, tahan lama, dan mudah di produksi. Plastik memiliki berbagai karakteristik yang berbeda, baik bersifat lunak dan keras seperti kantong, ember, serta variasi olahan plastik lainnya (Hartanto, 2025).

Kita ingat, bahwa plastik ditemukan oleh Christian Schonbein. Seorang ahli kimia yang pada tahun 1846 yang dengan tidak sengaja menumpahkan campuran asam nitrat dan asam sulfat, lalu ia mengepel tumpahan dengan kain dan kain tersebut berubah menjadi plastik (Hartanto, 2025).

Namun, di balik penemuan dari Schonbein yang bisa dibilang menjadi amal jariyahnya, ada masalah yang di hadapi segenap penduduk bumi termasuk hewan dan tumbuhan. Masalah itu adalah pencemaran lingkungan. Ini menjadi salah satu masalah besar yang dihadapi di dunia modern.

Ancaman

Bahwa, berdasarkan penelitian UN Environment Programme pada tahun 2025 di temukan bahwa setiap harinya jumlah plastik setara dengan 2.000 truk sampah yang dibuang ke laut, sungai, dan danau di seluruh dunia. Mencengangkan.

Sampah plastik yang masuk ke laut dapat merusak ekosistem laut dan mengancam kehidupan berbagai organisme laut seperti ikan, penyu, dan burung laut.

Oleh karena itu, permasalahan sampah plastik perlu mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak. Baik pemerintah, masyarakat, serta sektor industri.

Di samping itu, produksi plastik dunia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap produk berbahan plastik. Terutama, plastik sekali pakai seperti kantong belanja, botol minuman, dan kemasan makanan.

Peningkatan penggunaan plastik sekali pakai, pertumbuhan konsumsi masyarakat, serta sistem pengelolaan sampah yang belum optimal menjadi faktor utama meningkatnya jumlah sampah plastik.

Plastik sekali pakai biasanya hanya digunakan dalam waktu yang sangat singkat, tetapi membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai secara alami (Rinanda et al., 2023). Maka, semakin tinggi tingkat konsumsi masyarakat terhadap produk kemasan, semakin banyak pula sampah plastik yang dihasilkan. 

Selain itu, ada sebab lain tentang meningkatnya pencemaran plastik adalah kurangnya sistem pengolahan sampah yang efektif. Dalam konteks negara Indonesia, sistem pengolahan sampah di Indonesia masih menghadapi banyak kendala.

Kendala tadi berkisar pada kurangnya fasilitas dan pengetahuan untuk daur ulang serta kesadaran masyarakat tentang sampah yang masih rendah (Mahardika dan Pratama, 2024). Pengelolaan sampah yang tidak efektif menyebabkan penumpukan sampah plastik di tanah, laut, serta sungai. 

Sampah plastik memiliki banyak dampak negatif untuk lingkungan baik darat maupun wilayah perairan, seperti laut, sungai, dan danau. Di wilayah perairan, plastik dapat berkamuflase menjadi makanan alami para organisme laut karena mereka tidak dapat membedakan plastik dengan makanan alami.

Hal ini menyebabkan gangguan terhadap organisme laut yang berujung pada kepunahan (Jamika et al., 2023). Plastik yang berada di lingkungan darat mengalami proses degradasi atau yang disebut mikroplastik.

Mikroplastik masuk ke dalam timbunan tanah sehingga menyebabkan terhambatnya proses penyerapan air ke dalam tanah dan menganggu kesuburan tanah (Rahman., et al 2021). Jika hal ini masih dilakukan.

Maka, mikroplastik yang tersebar di lingkungan dapat berpindah-pindah melalui organisasi dengan rantai makanan hingga akhirnya mencapai pada manusia. Juga, mikroplastik berdampak pada organisme sekecil apapun dan berpotensi menimbulkan bahaya besar di masa depan.

Mengatasi

Meskipun pencemaran lingkungan karena konsumsi plastik oleh manusia yang tidak terkendali, kita harus mengampanyekan agenda buat mengatasi masalah ini. Usaha ini perlu inisiasi dan kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak dari elemen masyarakat dalam rangka mengelola sampah.

Pengelolaan sampah diharapkan merubah perspektif masyarakat untuk memanfaatkan sampah menjadi hal yang lebih berguna atau 3R (reduce, reuse, dan recycle). Masyarakat juga dihimbau untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan menggantikannya dengan reusable bag, botol minum, ataupun sesuatu yang lebih ramah lingkungan.

Selain itu, pengelolaan sampah plastik juga dapat dilakukan melalui kegiatan daur ulang. Salah satu contoh pemanfaatan sampah plastik adalah dengan membuat ecobrick, yaitu teknik memadatkan sampah plastik ke dalam botol plastik sehingga dapat digunakan sebagai bahan bangunan sederhana (Hamzani et al., 2023).

Oleh karena itu, upaya pengurangan penggunaan plastik, peningkatan pengelolaan sampah, serta kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan menjadi langkah penting yang harus dilakukan secara bersama-sama. Ini adalah usaha untuk mengurangi dampak pencemaran plastik di masa depan.

Sampah plastik menjadi masalah serius baik di Indonesia maupun global yang mengancam keberlangsungan kehidupan di bumi. Karenanya, diperlukan berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan ini, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, meningkatkan kegiatan daur ulang, serta meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan.

Dengan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan sektor industri, diharapkan pencemaran lingkungan akibat sampah plastik dapat dikurangi. Sehingga, lingkungan yang bersih dan sehat dapat terwujud bagi generasi mendatang.


PENULIS :
Foto
Zidane Surya Pratama
Mahasiswa Program Studi Ilmu Lingkungan Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta, saya memiliki minat pada isu isu lingkungan dan ketertarikan dalam penulisan opini.